Warga Lamsel Optimalkan Budidaya Kepiting Bakau
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Potensi perikanan tangkap dan budidaya dimanfaatkan oleh warga di pesisir Lampung Selatan (Lamsel) guna meningkatkan penghasilan.
Suhaimi, warga Dusun Umbul Besar, Desa Bandar Agung,Kecamatan Sragi menyebut melakukan intensifikasi lahan tambak. Selain untuk udang vaname, ia melakukan pembesaran kepiting bakau.
Berbeda dengan udang, ikan bandeng yang dikembangkan sejak benur dan nener, kepiting bakau sulit dibudidayakan.
Potensi tanaman bakau atau mangrove di pesisir Timur Lampung dimanfaatkan Suhaimi untuk mengumpulkan kepiting bakau (Scylla) dari nelayan tangkap. Penggunaan alat tangkap ramah lingkungan jenis bubu bambu membuat kepiting bakau bisa diperoleh dengan sistem pemilahan.
Suhaimi menyebut hanya menerima kepiting berukuran lebih dari 150 gram. Sebab ukuran tersebut mudah dibesarkan hingga mencapai 200 gram maksimal lima bulan.
Sistem pembesaran dengan keramba bambu dilakukan pada lahan tambak yang digunakan untuk budidaya ikan bandeng. Cara tersebut akan menghasilkan panen menjanjikan dari hasil ikan bandeng dan kepiting bakau.
“Jarang ada nelayan budidaya yang melakukan pemeliharaan kepiting dari kecil karena biaya operasional besar, solusinya mengumpulkan dari nelayan tangkap sesuai kriteria ukuran yang disepakati agar bisa dibesarkan dalam waktu singkat,” terang Suhaimi saat ditemui Cendana News, Senin (15/6/2020).

Kepiting bakau yang kerap ditangkap nelayan rata-rata memiliki ukuran 150 hingga 200 gram. Sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56 Tahun 2016 Tentang Larangan Penangkapan dan atau Pengeluaran Lobster, Kepiting dan Rajungan ukuran kepiting yang boleh dijual telah diatur. Tidak dibenarkan menangkap dan mengirim kepiting dengan berat di bawah 200 gram serta bertelur.
Harga per ekor kepiting dari tangkapan nelayan di hutan bakau dibeli mulai harga Rp70.000 hingga Rp90.000.
Selanjutnya kepiting bakau sesuai ukuran akan dijual dengan harga mulai Rp120.000 hingga Rp180.000 dengan syarat ukuran di atas 200 gram. Kepiting hasil tangkapan yang belum memenuhi ukuran akan dibesarkan pada keramba apung.
“Pakan yang digunakan berupa ikan laut, udang dan juga daging ayam sehingga pertumbuhan akan cepat hingga ukuran siap dijual,” bebernya.
Suhaimi menyebut belajar otodidak dalam pembesaran kepiting bakau. Ia masih belajar untuk membudidayakan kepiting bakau dari ukuran kecil dalam skala besar.
Proses pembesaran kepiting secara alami akan terjaga dengan keberadaan hutan bakau di pesisir Timur yang lestari. Selain dari nelayan tangkap di Kalianda, Bakauheni, Ketapang, Sragi ia membeli kepiting dari Lampung Timur.
Pangsa pasar kepiting bakau menurut Suhaimi dominan untuk wilayah lokal. Rata-rata per pekan ia bisa memenuhi permintaan hingga 100 kilogram. Sebab sejumlah restoran olahan boga bahari (sea food) menggunakan kepiting untuk menu hidangan favorit.
Ia menyebut melakukan pengumpulan kepiting bakau ikut memberdayakan nelayan tangkap yang memakai alat tangkap ramah lingkungan.
“Nelayan tangkap memiliki kesadaran tinggi tidak menangkap kepiting ukuran kecil agar bisa lestari,” terangnya.
Pembesaran kepiting bakau dilakukan secara bertahap agar pasokan ke pelanggan bisa selalu dipenuhi. Puluhan keramba untuk pembesaran kepiting bakau sebagian jadi media untuk belajar.
Sebab secara alami kepiting bakau akan membuat lubang pada tanggul tambak. Kerap diburu karena menyebabkan tanggul tambak bocor ia menyebut kepiting bakau jadi peluang usaha sampingan nelayan tangkap dan budidaya.
Usman, salah satu pencari kepiting bakau di Way Lubuk, Kalianda menyebut menggunakan bubu dan perangkap bambu.
Perangkap bambu diberi umpan kelapa dan memiliki jerat yang membuat kepiting tidak bisa lepas. Hasil tangkapan akan dikirimkan ke pengepul untuk langsung dijual. Sebagian dikirim ke Suhaimi untuk dibesarkan hingga memenuhi ukuran 200 gram.
“Ada pedagang yang membeli kepiting langsung bisa dijual kepada konsumen sehingga saya bisa memiliki penghasilan,” terang Usman.
Kepiting yang telah ditangkap menurut Usman rata-rata memiliki ukuran 150 gram hingga 180 gram. Ia menjual ke pengepul untuk dijual kembali dengan harga Rp50.000 hingga Rp60.000.
Sistem borongan dalam penjualan kepiting kerap dilakukan dengan jumlah per kilogram bisa mencapai 3 hingga 4 ekor. Mencari kepiting yang selama ini sulit dibudidayakan bisa menjadi sumber penghasilan tambahan.
Nurlela, pedagang kepiting bakau menyebut menampung kepiting dari nelayan. Memanfaatkan alat tangkap bubu dan perangkap bambu, ia bisa menampung hingga 100 ekor per hari.
Rata-rata berat kepiting hanya mencapai 180 gram dan sudah bisa dikonsumsi. Berada di aliran sungai Way Lubuk yang terhubung dengan laut membuat kepiting bisa hidup pada rumpun bakau.
Sebagian kepiting yang belum layak jual oleh Nurlela dimasukkan dalam kolam khusus. Sebagian kepiting bakau tersebut akan dibeli oleh pengepul besar yang akan membesarkannya.
Sebab potensi kepiting bakau yang memiliki nilai jual tinggi bisa memberi sumber penghasilan bagi nelayan. Saat air laut surut dan sungai dangkal pencari kepiting akan memanfaatkan bubu untuk menangkap kepiting.