Petani Jagung di Lamsel Pilih Pupuk Nonsubsidi
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Petani jagung di Lampung Selatan mulai melakukan pemupukan tahap pertama. Sebagian petani memilih menggunakan pupuk nonsubdisi saat masa pemupukan pertama.
Ariyanto, petani jagung di Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang, mengaku memilih pupuk nonsubsidi karena lebih cepat diperoleh, meski harganya lebih mahal. Ia membelinya dari kios pertanian. Menurutnya, pupuk nonsubsidi jenis ZA dibeli seharga Rp150.000 per sak ukuran 50 kilogram. Harga tersebut lebih mahal dari harga pupuk bersubsidi yang hanya Rp80.000 per kilogram. Pupuk Phonska nonsubsidi seharga Rp230.000 per sak, sementara yang bersubsidi Rp115.000 per sak.
Ia juga mempergunakan pupuk urea nonsubsidi dengan harga Rp240.000, yang jika bersubsidi hanya Rp90.000 per sak. Jenis pupuk SP-36 seharga Rp250.000 per sak, sementara harga bersubsidi hanya Rp100.000 per sak.
Ia mengaku membeli pupuk nonsubsidi untuk mempercepat proses pemupukan, sebab tanaman jagung miliknya memasuki usia 15 hari setelah tanam (HST).

“Alokasi pupuk bersubsidi memang harus mengajukan rencana dasar kebutuhan kelompok, namun saya tidak ikut kelompok sehingga memilih membelinya agar tetap bisa melakukan pemupukan lebih cepat,” terang Ariyanto, saat ditemui Cendana News, Senin (8/6/2020).
Penggunaan pupuk, menurutnya dipergunakan untuk menambah zat hara pada lahan jagung miliknya. Pemupukan akan dilakukan selama dua kali, setelah usia tanaman mencapai 40 hari. Pemupukan dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan akar serta daun. Sebab, tanaman jagung akan bertambah subur usai penanaman tahap pertama.
Sementara itu petani lain, Agus Irawan, pemilik lahan seluas satu hektare mengaku tetap mempergunakan pupuk subsidi. Namun sebagian pupuk tambahan tetap mempergunakan nonsubsidi. Tambahan pupuk nonsubdisi berasal dari jenis pupuk mutiara yang memiliki harga Rp450.000 per sak. Jenis pupuk mutiara disebutnya sangat cocok digunakan jelang jagung memasuki masa berbuah.
“Penggunaan pupuk subsidi harus melalui pembelian sistem kelompok, namun kerap terlambat ditebus. Pilihannya tetap pada pupuk nobsubdisi,” bebernya.
Proses pemupukan tahap pertama, menurut Agus Irawan bertepatan dengan masa penghujan. Penyiapan sumur bor telah dilakukan olehnya untuk kebutuhan penyiraman. Sebab, diprediksi pada pertengahan masa tanam memasuki kemarau. Penggunaan pupuk tepat sesuai takaran, berpotensi meningkatkan produktivitas tanaman jagung jenis hibrida yang ditanam.
Sesuai target, satu hektare lahan jagung bisa menghasilkan 6 ton jagung. Meski harga jagung kerap anjlok saat masa panen, ia mengaku tidak kapok. Sebab, proses penanaman jagung lebih cepat panen dibandingkan menanam komoditas pertanian lain. Membutuhkan waktu sekitar empat bulan, ia sudah bisa memanen jagung.
“Kebutuhan jagung untuk bahan pakan unggas masih tinggi, sehingga masih memiliki peluang ekonomi yang bagus,”cetusnya.
Soleh, petani yang selesai melakukan pemupukan tahap pertama, mengaku sudah memulai tahap penyemprotan gulma. Usai pemupukan tahap pertama, ia menyebut pertumbuhan rumput makin meningkat. Imbasnya, ia harus mempergunakan zat kimia jenis herbisida untuk memusnahkan rumput. Penggunaan herbisida lebih efektif mempercepat pembersihan gulma dan lebih murah.