Perubahan Iklim tak Bisa Dicapai dalam Waktu Singkat

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Tanpa adanya itikad yang konsisten dalam memperbaiki lingkungan, maka target untuk melakukan perubahan di bidang iklim bisa jadi hanya tulisan di atas kertas belaka. Dan peningkatan kualitas udara yang terpantau selama WFH dan PSBB, diperkirakan akan kembali memburuk saat program tersebut berakhir. 

Peneliti Iklim Ekstrim Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)  Siswanto, M.Sc menyatakan kualitas udara dinyatakan terpantau membaik selama pemberlakuan pembatasan aktivitas di seluruh dunia.

“Dari beberapa pemantauan satelit di beberapa kota besar dunia, memang menunjukkan citra adanya pengurangan beberapa gas dan polutan. Beberapa media pun mengangkat berita tentang adanya perubahan lingkungan yang menuju arah lebih baik,” kata Siswanto saat dihubungi, Selasa (16/6/2020).

Tapi, perubahan yang terlihat pada beberapa data, lanjutnya, tidak akan bisa memenuhi target perubahan iklim jika hanya dilakukan dalam rentang waktu yang singkat.

“Walaupun Work from Home dan pembatasan aktivitas mempengaruhi faktor kualitas udara tapi jika hanya dilakukan dalam rentang waktu yang pendek maka tidak akan bisa mendorong perubahan iklim. Begitu aktivitas normal dan melakukan kegiatan yang seperti dulu, ya indeks-nya akan kembali memburuk,” ujarnya.

Dari penelitian yang dilakukan di Jakarta, Siswanto menyatakan diagram menunjukkan garis flat.

“Artinya, WFH dan PSBB tidak cukup untuk mengurangi polutan. Hanya bisa mengurangi jumlah maksimum,” tandasnya.

Dari data, terlihat adanya penurunan karbondioksida, nitrogen dioksida dan ozone. Tapi terjadi peningkatan sulfur dioksida selama program WFH dan PSBB di Jakarta.

“Terlihat pada data, adanya penurunan 1 persen pada awal program WFH, yaitu sekitar Maret. Saat April, terjadi penurunan kembali, hingga saat ini terpantau adanya penurunan 6,04 persen,” urai Siswanto.

Begitu pula dengan Nitrogen dioksida yang menunjukkan penurunan terutama pada Dasarian III April 2020.

“Penurunan Nitrogen dioksida memang terlihat signifikan dibandingkan yang lain. Ini terkait pada sumbernya, yaitu gas buang kendaraan bermotor. Saat PSBB, orang tidak menggunakan kendaraan bermotor, sehingga bisa mengendalikan jumlah gas buangannya ke udara. Tapi, bukan program ini berakhir dan orang kembali menggunakan kendaraan bermotor, maka potensi kenaikan akan terjadi,” ungkapnya.

Hingga, Siswanto kembali menegaskan, bahwa perubahan iklim merupakan suatu upaya yang harus dilakukan semua pihak.

“Kalau setelah PSBB dan WFH berakhir dan masyarakat kembali kepada aktivitasnya yang semula, maka apa yang terjadi pada rentang program akan hilang begitu saja. Dan target perubahan iklim akan tetap sulit untuk dicapai,” pungkasnya.

Data yang dilansir oleh IQAir pagi ini (16/6) menunjukkan kualitas udara di Jakarta kembali memasuki level moderat.

Dari pantauan sepuluh stasiun di lima wilayah Jakarta, terpantau peningkatan PM2.5 pada angka 53 mikro gram per meter kubik, jauh diatas ambang batas normal, yaitu 25 mikro gram per meter kubik.

Lihat juga...