Pandemi Corona Petani Sayuran di Sikka tak Putus Asa

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Para petani holtikultura terutama sayuran di Desa Nitakloang, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), semenjak merebaknya pandemi Corona mengalami kerugian.

Namun demikian, mereka tidak putus asa dan bangkit untuk kembali mempersiapkan bedeng-bedeng untuk ditanami aneka sayuran, cabai dan tomat untuk dijual di pasar meskipun harga masih belum stabil.

“Kami mulai mempersiapkan lahan untuk kembali ditanami aneka sayuranlagi. Pasar juga sudah mulai dibuka kembali,” kata Albertus Marianus Moa Desa, petani di Desa Nitakloang, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT, Senin (8/6/2020).

Petani holtikultura di Desa Nitakloang, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT, Albertus Marianus Moa Desa saat ditemui, Senin (8/6/2020). Foto: Ebed de Rosary

Albertus yang baru menanam sayuran selama setahun terakhir mengaku berhenti dari pekerjaan lamanya dan terjun jadi petani holtikultura karena keuntungan yang diperoleh lumayan.

Ilmu pertanian diperolehnya saat bersekolah di Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Boawae Kabupaten Ngada, namun tidak melanjutkan kuliah ke fakultas pertanian tapi lebih memilih perpajakan.

“Maka saya mencoba terjun jadi petani agar bisa menjadi tuan di tempat usaha sendiri. Istri saya setuju dan nyaman setelah saya terjun jadi petani holtikultura karena uang yang diterima lumayan banyak,” ungkapnya.

Bertani holtikultura kata Albertus, dalam waktu 3 sampai 4 bulan sudah bisa panen dan keuntungan yang diperoleh pun lumayan. Maka dirinya pun mulai menyiapkan bedeng-bedeng untuk ditanami tomat dan cabai.

Dirinya mengaku sempat berhenti menanam sayuran saat pandemi Corona karena tidak berani mengambil risiko dan mengalami kerugian. Bedeng yang sudah dibuat pun ditanami singkong.

“Saya mau kembali siapkan lahan untuk ditanami sayuran lagi. Jika pasar sudah dibuka dan pembeli mulai normal maka kita bisa mendapatkan keuntungan lagi,” ujarnya.

Hal serupa juga disampaikan Verentinus Wenger, petani Desa Nitakloang lainnya. Dirinya mengaku, meski ada wabah Corona namun dirinya tetap menanam holtikultura seperti tomat dan lombok dalam jumlah banyak.

Veres sapaannya, menyebutkan, mulai tanam holtikultura tahun 2018 setelah sebelumnya bekerja sebagai penjual ikan namun penghasilan yang diperolehnya tidak menentu dan hanya cukup untuk makan saja.

“Setelah terjun jadi petani saya melihat prospeknya bagus karena keuntungan yang diperoleh menggiurkan. Menjual ikan hasilnya tidak tentu dan kadang mengalami kerugian karena sepi pembeli,” terangnya.

Awalnya tanam tomat hampir 6 ribu pohon, kata Veres, setelah dirinya melihat kakaknya bisa tanam banyak tomat kenapa dirinya tidak bisa. Dirinya pun ikut menaman setelah belajar dari sang kakak.

Saat ini kata dia, sang kakak bersama dirinya serta petani lainnya juga sedang membajak lahan dan membuat bedeng. Pihaknya berencana untuk menanam holtikultura kembali mengingat sudah mulai memasuki new normal.

“Banyak petani yang mulai menyiapkan lahan agar bisa ditanami sayuran lagi. Kalau pasar sudah normal kami harus mulai menanam agar bisa mendapatkan keuntungan karena selama Covid-19 pendapatan kami menurun drastis,” terangnya.

Lihat juga...