Jateng Target Layani 147.654 Akseptor KB

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Jika pasangan usia subur (PUS) tidak terlindungi dengan alat kontrasepsi, lonjakan angka kehamilan di masa pandemi tidak bisa dihindari. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memprediksi, ada sekitar 400 ribu kehamilan yang tidak direncanakan, di saat pandemi Covid-19.

“Di awal-awal pandemi, banyak praktik bidan mandiri juga tidak buka, meski secara persentase tidak banyak. Dari akseptor, ada keraguan untuk menjangkau ke tempat pelayanan karena mereka ada khawatir tertular Covid-19. Ini yang kemudian kita cari solusinya,” papar Kepala Perwakilan BKKBN Jateng, Martin Suanta, di sela peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-27 Tingkat Jateng di Semarang, Senin (29/6/2020).

Dipaparkan, BKKBN terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, terkait penugasan petugas penyuluh keluarga berencana (PKB), selain untuk menyuluh juga mendistribusikan alat kontrasepsi pada akseptor.

“PKB ini dikoordinasi oleh kepala dinas, di bawah bupati/ wali kota dalam melaksanakan tugasnya. Untuk itu, kita selalu berkoordinasi dengan kepala daerah. Selain itu, kita juga menyurati para kepala daerah untuk menggratiskan retribusi pemasangan alat kontrasepsi selama pandemi,” terangnya.

Martin menjelaskan, langkah strategis diambil oleh BKKBN bersama stakeholders, terkait upaya mencegah lonjakan kehamilan di masa pandemi, dengan menggelar pelayanan sejuta akseptor di seluruh Indonesia.

“BKKBN mengajak segenap stakeholders untuk menyukseskan kegiatan tersebut. Khusus untuk Jateng, kita menargetkan dapat melayani 147.654 akseptor. Harapannya melalui pelayanan besar-besaran ini, kebutuhan ber-KB masyarakat dapat terpenuhi dan putus pakai kontrasepsi akibat keterbatasan pelayanan akibat Covid-19 dapat diatasi,” tegasnya.

Masyarakat yang ingin dilayani, cukup menghubungi Penyuluh KB dan Kader KB setempat, untuk mendapatkan waktu dan tempat pelayanan. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya penumpukan antrean. Protokol kesehatan tetap diutamakan dalam kegiatan ini.

“Kita juga terus lakukan sosialisasi kepada masyarakat, untuk menunda kehamilan terlebih dahulu selama pandemi Covid-19. Silakan menikah, tapi tunda kehamilan,” lanjutnya.

Sementara, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh keluarga di Jateng, yang telah dan tetap saling berkomunikasi, menjaga, mendukung dan peduli antar anggota keluarga di tengah pandemi ini.

“Saya percaya, bahwa dari keluarga, negara akan kuat untuk survive dalam menghadapi masalah dan tantangan apa pun, tak kecuali pandemi Covid-19 saat ini. Secara serentak, pelayanan KB dilakukan di seluruh Indonesia, tak kecuali juga di seluruh kabupaten/kota di Jateng,” paparnya.

Dirinya mengimbau bagi seluruh warga Jateng yang ingin ikut KB, bisa datang ke kader, bidan atau penyuluh KB yang ada di desa atau kelurahan masing-masing.

Di satu sisi, dirinya juga meminta agar sosialisasi tentang KB terus digencarkan, demi mengedukasi masyarakat, termasuk PUS.

“Ada banyak hal-hal soal KB yang tidak benar, misalnya kalau KB implan, nanti implannya hilang, tidak bisa menstruasi, jadi gemuk. Padahal semua itu tidak benar, jadi untuk menepis hal seperti ini, perlu sosialisasi yang lebih gencar. Termasuk menggandeng tokoh masyarakat dan agama,” terangnya.

Ganjar juga mengajak agar tetap mematuhi protokol kesehatan, jaga jarak dan jangan lupa pakai masker.

“Bagi tenaga medis yang melayani, jangan lupa pakai APD-nya, lakukan tindakan sesuai SOP yang berlaku di masa pandemi Covid-19 ini.Tunda hamilmu, pakai KBmu. Berencana itu keren,” pungkasnya.

Lihat juga...