Indahnya Menata Taman Penuh Ikan Hias
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
SEMARANG – Bagi penggemar ikan hias, tentu tidak asing dengan istilah aquascape. Menggunakan media kotak kaca atau akuarium, aquascape menjadi sebuah seni membuat taman atau lanskap di bawah air, lengkap dengan tanaman dan ikan sebagai penghias.
“Aquascape itu menarik karena kita tidak hanya memelihara ikan, tapi juga memelihara semua komponen yang ada di dalam akuarium. Mulai dari tanaman, bebatuan, hiasan pernak pernik,” papar penggemar aquascpe, Aditya, saat ditemui di pasar ikan hias Kenari Semarang, Senin (15/6/2020).

Berbeda dengan penggemar ikan hias, yang berfokus pada jenis ikan yang dipelihara, pada aquascape, ikan hanyalah sebagai penghias dan bukan hal yang begitu penting.
“Tujuan utama pembuatan aquascape, untuk membuat sebuah lanskap bawah air yang indah dan bagus. Sementara, ikan yang dipilih justru yang berukuran kecil, karena hanya sebagai penghias. Kalau terlalu besar, malah ditakutkan dapat merusak tanaman yang ada,” lanjutnya.
Umumnya, jenis ikan hias yang dipilih untuk aquascape seperti neon tetra atau ikan komet, yang memiliki banyak varian jenis. Ikan jenis ini dipilih karena memilki warna terang, dengan beragam kombinasi. Selain ikan, udang red chery juga bisa menjadi pilihan.
Dijelaskan, ada banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembuatan dan pemeliharaan aquascape.
“Hobi ini termasuk unik dan tidak mudah, karena butuh imajinasi dalam membentuk lanskap. Kita bayangkan dulu, kemudian kita wujudkan,” terang mahasiswa Undip tersebut.
Selain kepekaan seni, ada banyak aspek yang perlu dipertimbangkan. Misalnya pengaturan pencahayaan yang berfungsi sebagai pengganti sinar matahari, untuk proses fotosintesis.
“Karena pencahayaan ini, berfungsi sebagai pengganti peran matahari sehingga harus disesuaikan dengan tanaman yang ada, dalam aquascape tersebut,” tandasnya.
Hal senada juga dipaparkan Ismail, penggemar aquaspace lainnya, yang ditemui di pasar ikan hias tersebut.
“Pembuatan aquascape dalam satu wadah dikelompokkan menjadi tiga bagian, yakni foreground atau bagian depan, midground (tengah) dan background (belakang). Jadi masing-masing bagian, jenis tanamannya berbeda, dekorasinya juga berbeda,” ungkapnya.
Sementara, salah seorang penjual aquaspace di pasar ikan hias Kenari, Naili, mengaku penggemar aquaspace di Semarang dan sekitarnya sudah cukup banyak. Hal itu dibuktikannya, dengan stok berbagai pernak pernik pembuatan aquaspace yang ada di lapak miliknya.
“Cukup banyak, kalau tidak ada, ya saya tidak berani nyetok banyak,” paparnya.
Dijelaskan, aquaspace berbeda dengan sekadar memelihara ikan hias di akuarium atau yang kerap disebut fish keeping. Seni ini menghadirkan seluruh komponen di dunia bawah air dalam akuarium.
“Semua ada, mulai dari akuarium, beragam tanaman hidup, hard scape atau dekorasi, seperti batu, koral, kayu. Kita juga ada akar kayu yang sudah dibentuk. Jadi tinggal pasang saja,” paparnya.
Tidak hanya menjual bahan-bahan, jika pembeli ingin langsung memiliki aquaspace yang sudah jadi pun bisa. Harganya tergantung jenis ikan, tanaman hingga panjang akuarium yang dipakai.
“Paling murah Rp 500 ribu, untuk ukuran akuarium 20 cm x 30 cm. Belum termasuk lampu dan filter air,” pungkasnya.