‘Ecobrick’ Solusi Praktis dan Murah Kurangi Limbah Plastik

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Dunia industri harus berperan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah, termasuk sampah plastik. Kesadaran ini penting, mengingat sampah plastik yang berasal dari rumah tangga, juga cukup banyak.

Hal tersebut mendorong PT Marimas Putera Kencana, selaku produsen makanan dan minuman dalam kemasan, melakukan pelatihan pengolahan sampah plastik dengan cara pembuatan ecobrick.

Pelatihan tersebut diberikan kepada masyarakat umum, kelompok bank sampah, anggota pramuka, hingga guru-guru di berbagai jenjang pendidikan di Jawa Tengah.

“Kita sebagai perusahaan yang menggunakan plastik dalam pengemasan produk, memiliki tanggung jawab dalam mengolah sampah plastik. Kita harapkan, dengan pelatihan pengolahan sampah plastik menjadi ecobrick, bisa menjadi solusi bagi masyarakat dalam pengelolaan sampah, khususnya plastik,  yang bisa dikreasikan sebagai kursi, meja, bahkan dinding rumah,” papar ecobricks trainer, Lantip Widodo di Semarang, Rabu (17/6/2020).

Dipaparkan, dalam pelatihan tersebut, para peserta diajak untuk membuat ecobrick, untuk kemudian dikreasikan menjadi sebuah produk yang bermanfaat.

Humas PT Marimas, sekaligus ecobricks trainer, Lantip Widodo menunjukkan hasil pelatihan pengolahan sampah plastik dengan metode ecobrick di Semarang, Rabu (17/6/2020). -Foto Arixc Ardana

“Caranya cukup mudah, dengan cara memasukkan potongan-potongan sampah plastik ke dalam botol plastik , lalu padatkan hingga mengisi semua ruang botol . Botol plastik yang sudah terisi tersebut kemudian kita rangkai, menjadi sebuah modul-modul seperti lego,” terangnya.

Diterangkan, ecobrick menjadi solusi praktis dan murah untuk mengurangi limbah plastik. Namun di satu sisi, untuk membuat ecobrick, tidak hanya sekadar memasukkan sampah plastik ke dalam botol, namun juga ada standar untuk berat agar kuat untuk difungsikan.

“Standar berat umum untuk ecobrick, yakni sepertiga dari berat isi kemasan botol plastik. Misalnya untuk ukuran botol 600 ml, maka berat ecobrick minimal 200 gram,” terangnya.

Program ecobrick ini juga masuk ke sekolah-sekolah, tujuannya meningkatkan kesadaran para siswa dalam pengolahan sampah. “Tidak sekadar mengajak, kita juga memberikan penghargaan berupa satu buah laptop, bagi sekolah yang mampu mengumpulkan 100 botol ecobrick. Program ini berlangsung hingga akhir tahun ini,” tandasnya.

Pihaknya berharap dengan program tersebut, dapat menarik kembali sampah plastik yang ada masyarakat sebanyak 20 ton, yang sudah terwujud dalam ecobrick.

“Pelatihan pembuatan ecobrick ini juga tidak hanya di Semarang, namun wilayah lainnya di Jateng-DIY, seperti Kabupaten Pati, Sukoharjo, Boyolali, Surakarta, Sragen, Klaten, Wonogiri, hingga Kabupaten Sleman dan  Gunungkidul, Yogyakarta,” terang Ood, panggilan akrabnya.

Sementara, salah seorang peserta pelatihan, guru SDN Sumorboto Semarang, Kuncoro, mengaku dengan pelatihan ecobrick tersebut, selain mengurangi sampah plastik juga mendorong para siswa untuk lebih kreatif.

“Pengelolaan sampah dengan sistem ecobrick ini, relatif mudah dan bisa dilakukan oleh siapa pun. Termasuk siswa. Anak-anak itu kan tiap hari jajan, dan menghasilkan sampah plastik. Jadi harapannya program ini bisa jadi pemantik bagi mereka, untuk bisa mengolah sampah plastik sendiri sejak dini,” tandasnya.

Lihat juga...