Busuk Buah Sebabkan Petani Cabai Keriting di Lamsel, Rugi
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Dampak perubahan cuaca dengan dominan hujan kerap turun berimbas buruk pada tanaman cabai. Pembusukan buah cabai keriting siap panen dialami oleh Atin, petani cabai di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel). Tanaman usia tiga bulan lebih yang memasuki masa panen sebagian busuk saat masih ada di batang.
Pembusukan buah pada tanaman jelang masa panen disebutnya berbarengan dengan harga yang anjlok. Pada kondisi normal ia menyebut harga cabai mencapai Rp15.000 per kilogram pada level petani. Namun setelah hari raya Idulfitri tahun ini harga hanya mencapai Rp5.000 per kilogram. Selain kendala busuk buah harga yang anjlok berimbas petani alami kerugian.
Arin menyebut buah yang busuk saat berada di atas pohon kerap terjadi imbas kadar air tinggi. Sistem budidaya memakai mulsa plastik dilakukan menghindari perakaran terkena air berlebih.
Namun hujan yang cukup lebat mengakibatkan guludan tanaman terkena air dan merusak proses pembuahan. Upaya pengurasan air pada saluran dilakukan agar meminimalisir buah yang busuk.
“Masa tanam hingga panen semester kedua tahun ini jadi pukulan telak bagi petani cabai keriting karena terimbas cuaca buah busuk dan harga jual anjlok di pasaran,” terang Atin saat ditemui Cendana News, Senin (22/6/2020).
Komoditas cabai keriting menurutnya kerap dikirim ke wilayah Padang, Sumatera Barat. Kuota pesanan hingga 4 ton kerap bisa dipenuhi olehnnya saat harga mencapai Rp15.000 per kilogram. Namun imbas masuknya hasil pertanian cabai keriting dari pulau Jawa mengakibatkan harga anjlok. Sebagian hasil panen terpaksa dijual pada pasar lokal untuk menekan biaya distribusi.
Pemilik sekitar 12 ribu batang tanaman cabai itu menyebut tanaman bisa dipanen hingga 15 kali. Sebagian tanaman yang sudah dipanen lebih dari 10 kali saat buah membusuk sebagian dibiarkan pada batang.
Pembeli pada pasar lokal kerap membeli di kebun untuk digunakan sebagai bahan bumbu terutama oleh pemilik usaha kuliner.
“Daripada dijual keluar daerah biaya operasional tinggi yang masih layak jual didistribusikan ke pasar lokal,” terang Atin.
Mamat, pekerja pada lahan pertanian cabai keriting menyebut budidaya akan menghasilkan saat kemarau. Sebab pasokan air masih bisa diperoleh dari aliran irigasi yang telah dibuat.

Namun saat penghujan pasokan air melimpah berimbas perakaran tanaman cepat membusuk mempengaruhi buah. Saat buah membusuk sebagian akan rontok dan tidak bisa dimanfaatkan.
“Kalau sudah busuk sejak masih warna hijau tidak bisa dimanfaatkan dibiarkan saja tidak dipanen,” ungkap Mamat.
Sebagian tanaman yang masih bisa diselamatkan masuk masa panen grantingan. Proses penanaman tahap berikutnya diprediksi akan dilakukan pada awal Agustus mendatang.
Sebab sesuai perkiraan penanaman akan dilakukan menghadapi masa tanam kemarau atau gadu. Masa tanam gadu lebih berpotensi menghasilkan karena busuk buah dan batang bisa diminimalisir.