Warga Padati Pasar Tradisional di Lamsel

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Dua hari menjelang hari raya Idulfitri 1441 Hijriah, jumlah pengunjung pasar tradisional di Lampung Selatan membludak. Imbas keramaian itu, membuat sejumlah pedagang dan pembeli mengabaikan social distancing atau jaga jarak.

Rohman, salah satu pedagang daging sapi menyebut menyediakan sekitar 100 kilogram daging sapi. Daging sapi tersebut dominan diminta oleh masyarakat yang akan menyiapkan hidangan istimewa. Dua hari jelang lebaran, sejumlah pedagang menjual daging sapi seharga Rp130.000 per kilogram. Harga bahkan akan naik hingga Rp150.000 per kilogram sehari sebelum Idulfitri.

Normalnya, pasar prepekan akan muncul sehari sebelum lebaran. Namun, Rohman menyebut pasar tradisional Pasuruan yang dikenal dengan pasar Jumat mulai beroperasi. Sehari sebelum lebaran, pasar masih akan tetap buka karena makin banyak warga berbelanja kebutuhan pokok. Ia berencana menjual sekitar 250 kilogram daging sapi memenuhi kebutuhan masyarakat.

Rohman, salah satu pedagang daging sapi di pasar tradisional Pasuruan, Kecamatan Penengahan, menyiapkan sapi pesanan warga yang akan merayakan Idulfitri, Jumat (22/5/2020). -Foto: Henk Widi

“Sejak pagi hingga sore, pasar akan ramai karena masyarakat mencari berbagai jenis kebutuhan, terutama untuk bahan makanan segar karena sepekan usai lebaran pedagang akan libur,” terang Rohman, saat ditemui Cendana News di pasar tradisional Pasuruan, Jumat (22/5/2020).

Membludaknya masyarakat yang berbelanja di pasar tradisional, menurut Rohman terlihat dari daging sapi yang cepat habis. Menjual sebanyak 200 kilogram daging sapi, hingga tengah hari hanya tersisa 20 kilogram daging dan sejumlah tulang. Peminat daging sapi dominan berasal dari ibu rumah tangga yang akan membuat menu rendang, semur dan gulai.

Selain daging sapi yang berjualan musiman, sejumlah pedagang ayam kampung dan entok bermunculan. Jono, salah satu pedagang ayam dan entok mengaku hanya berjualan saat prepekan. Ia memilih menjual entok dan ayam kampung hasil ternak miliknya untuk kebutuhan lebaran. Sebab, sebagian warga memilih jenis ayam kampung dan entok dibanding ayam broiler.

“Minat masyarakat akan ayam kampung dan entok cukup banyak, saya siapkan puluhan ekor, jika tidak terjual masih bisa dipelihara kembali,” terang Jono.

Harga ayam kampung jenis jantan, menurutnya dijual Rp50.000 hingga Rp60.000 per ekor. Sementara jenis entok dijual Rp70.000 hingga Rp80.000 per ekor. Sebagian masyarakat memilih daging ayam kampung dan entok untuk membuat opor sebagai lauk untuk lontong dan ketupat.

Pedagang kulit ketupat, Suminah, mengaku pada hari pasaran normal berjualan sayuran. Namun sehari jelang prepekan lebaran, ia memilih berjualan kulit ketupat.

Kulit ketupat dibuat dari daun kelapa muda atau kerap disebut janur. Satu ikat kulit ketupat dengan jumlah rata-rata 10 hingga 15 kulit ketupat, dijual seharga Rp5.000 hingga Rp7.000.

“Banyak warga yang tidak sempat membuat kulit ketupat, sehingga memilih membelinya, jelang Idulfitri selalu ramai,” cetusnya.

Suminah menyebut, prepekan kerap digelar sehari jelang lebaran. Namun dua hari jelang lebaran, pedagang memanfaatkan permintaan masyarakat yang meningkat. Kunjungan ke pasar tradisional Pasuruan membludak, bahkan sepekan sebelum lebaran. Pengunjung bahkan mengabaikan social distancing yang telah ditetapkan akibat membludaknya pengunjung.

Meski sejumlah komoditas mengalami kenaikan, minat masyarakat untuk berbelanja cukup tinggi. Atun, salah satu warga mengaku menggunakan uang yang diterima dari bantuan sosial tunai (BST) untuk membeli kebutuhan pokok.

Jenis kebutuhan yang dibeli meliputi baju baru bagi suami dan anak-anak, sebagian untuk membeli daging. Bantuan Rp600.000 dimanfaatkannya untuk kebutuhan lebaran.

Lihat juga...