Deteksi Dini Melalui Swab Percepat Penanganan Covid-19
Editor: Koko Triarko
PADANG – Pemerintah Provinsi Sumatra Barat mendorong kabupaten dan kota untuk melakukan swab kepada masyarakat, agar dapat mempercepat penanganan Covid-19. Hal ini juga didukung adanya kesiapan laboratorium yang ada di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang.
Wakil Gubernur Sumatra Barat, Nasrul Abit, mengatakan cara cepat melakukan penanganan Covid-19 ialah perlu dilakukannya swab. Contohnya di Pasar Raya Padang, yang kini menjadi klaster penyebaran Covid-19, dengan dilakukan swab kepada pedagang, telah mendapatkan orang-orang yang positif Covid-19.
“Kalau tidak kita lakukan swab, mungkin rantai penularan makin meluas. Makanya, langkah swab ini perlu dilakukan, dan masyarakat jangan takut,” katanya, Jumat (29/5/2020).
Wagub menyebutkan, sejauh ini kinerja yang dilakukan oleh tim dokter di laboratorium Universitas Andalas Padang sangat luar biasa. Karena dengan waktu 22 jam, telah melakukan pemeriksaaan 1.461 sampel.
Baginya, hal tersebut sebuah bukti Sumatra Barat bisa segera terbebas dari Covid-19, jika sedini mungkin bisa diketahui orang-orang yang terpapar Covid-19. Maka, tindakan yang dilakukan ialah untuk penanganan kesehatan, seperti merawat pasien Covid-19.
“Rumah sakit di Sumatra Barat ada banyak untuk melakukan penanganan Covid-19. Bahkan, ada tempat karantina yang disediakan. Jadi, saat ini bagaimana supaya swab bisa dilakukan hingga sampai ke daerah-daerah,” ujarnya.
Nasrul menyatakan, lebih baik mendapatkan hasil swab yang mengetahui kondisi kesehatan orang yang bersangkutan, ketimbang harus menunggu-menunggu dulu untuk sakit dengan gajala Covid-19. Sebab, makin lama dibiarkan, rantai penyebaran makin luas.
“Jadi, deteksi dini adalah kita mencari sebanyak- banyaknya para terindikasi mulai dari ODP, PDP dan OTG, itu dicari semua,” tegas dia.
Selanjutnya, deteksi dini harus dipercepat dengan angka 537, dan hal itu tidak perlu ditakutkan. Menurut hasil deteksi laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang, dibandingkan dengan Provinsi lain, Sumatra Barat lebih cepat dalam penanganan uji laboratorium.
Hal ini karena Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang mempunyai labor sendiri. Sehingga, sampelnya bisa diperiksa setiap hari, dan laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang termasuk terbaik di Indonesia.
Untuk itu, Wagub mengapresiasi tim paramedis yang telah bekerja luar biasa, tanpa kenal lelah siang-malam, tidak bertemu keluarga dengan keikhlasan. Agar perjuangan tim medis tidak sia-sia, masyarakat diharapkan menjaga kesehatan dalam kondisi pandemi Covid-19.
“Sejauh ini kita melihat adanya peran laboratorium Universitas Andalas Padang ini, penanganan Covid-19 makin membaik,” ucapnya.
Wagub juga mengatakan, saat ini upaya dilakukan Pemprov dalam menghadapi wabah Corona, antara lain sudah siapkan rumah sakit rujukan Covid-19, yaitu RS M. Jamil, RSAM, RS Unand, RS M.Natsir, RS Semen Padang, RS Reksodiwiryo, dengan tota 147 tempat tidur.
Kemudian Rumah Sakit Khusus Covid-19, di antaranya RSUD Pariaman dan RSUD Rasidin Padang, dengan jumlah 273 tempat tidur, dan jejaring rumah sakit Covid-19 RSUD Daerah dengan jumlah 563 tempat tidur.
Juga menyiapkan 9 lokasi karantina untuk Orang Dalam Pemantauan (ODP) 5 lokasi dan Orang Dengan Covid Positif Ringan (OD-CPR) 4 lokasi. Empat lokasi karantina ODP diantaranya, Asrama Diklat PPSDM Kemendagri Ragional Bukittinggi di Baso, UPT Asrama Haji Padang Pariaman, UPTD Balai Pelatihan Penyuluhan, Asrama BLK Padang Panjang, Arama BLK Payakumbuh.
Sedangkan untuk karantina (OD-CPR) berlokasi di Asrama Diklat BPSDM Provinsi Sumatra Barat, UPTD Balatkop Dinas Koperasi UKM Provinsi Sumatera Barat, Asrama Diklat Bapelkes Dinas Kesehatan , Gedung ITC UPTD BPTSD Provinsi Sumatera Barat di Payakumbuh.
“Inilah sarana-sarana yang kami siapkan mualai dari perlengkapannya, tenaga kesehatan, dokter beserta perawatnya itu akan kita siapkan semua,” ucap Wagub.
Nasrul Abit juga menjelaskan untuk pengendalian Covid-19 ini, akan dilakukan edukasi dan sosialisasi-sosialisasi kepada masyarakat. Sejauh ini Pemprov sudah cukup banyak mengirim surat, hampir 100 surat tentang instruksi penanganan Covid-19, yang dimulai dari ke tingkat desa, kelurahan sampai ke tingkat terendah.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Barat, Merry Yuliesday, mengatakan, terkait isolasi itu juga boleh di rumah dan ada tempat disiapkan oleh pemerintah provinsi sebanyak 9 lokasi. Seperti yang ada di Padang, Bukittinggi dan Padang Panjang.
Semuanya sudah tersebar tempat isolasi, baik mereka yang positif maupun yang belum, dan yang Pasien Dalam Perawatan (PDP) biasanya sudah diisolasi.
“Soal isolasi, bagusnya di tempat yang sudah disediakan oleh pemerintah. Sehingga dapat menutup kemungkinan penularan bagi keluarga yang melakukan isolasi karena terpapar Covid-19,” sebutnya.
Merry menegaskan, terkait efektif atau tidaknya isolasi mandiri di rumah untuk orang yang terpapar ringan Covid-19 itu, memang belum bisa dipastikan. Sebab, tidak ada pengawasan khusus untuk orang yang melakukan isolasi mandiri itu.
“Yang melakukan isolasi mandiri di rumah itu disebut terpapar ringan, dan yang menyarankan untuk melakukan isolasi mandiri itu dari pihak Puskesmas. Tapi kalau yang positif berat, baru dirawat ke rumah sakit,” katanya.
Ia menjelaskan, lebih aman isolasi mandiri itu ada prosedur yang harus dilakukan, sesuai protokoler kesehatan. Orang yang melakukan isolasi mandiri harus diberikan ruangan khusus.
Namun, ada hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan isolasi mandiri di rumah. Pihak Puskesmas akan melihat terlebih dahulu kondisi rumah dari orang yang bersangkutan, jika ada ruangan yang bisa digunakan serta ketentuan lainnya dinilai layak, baru disarankan isolasi mandiri di rumah saja.
Tetapi, bila tidak sesuai dan tidak memungkinkan kondisi rumah orang yang bersangkutan untuk dijadikan tempat isolasi mandiri, maka akan lebih baik dilakukan isolasi ke tempat karantina yang telah disediakan oleh pemerintah.