Uskup Tanjungkarang: Allah tak Menghendaki Penderitaan Manusia
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Uskup Keuskupan Tanjungkarang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono memimpin Ekaristi Hari Raya Minggu Palma melalui live streaming.
Perayaan Ekaristi Minggu Palma secara live streaming diikuti oleh umat pada rumah masing masing. Perayaan yang biasanya diisi dengan liturgi perarakan umat yang membawa daun palma di Gereja Katedral Kristus Raja, Tanjungkarang digelar dari rumah uskup.
Minggu Palma yang menjadi awal Pekan Suci menurut Mgr. Harun Yuwono dilakukan live streaming dalam upaya pencegahan pandemi Covid-19.

Gereja Katolik Lampung melalui Keuskupan Tanjungkarang memutuskan selain Minggu Palma perayaan Pekan Suci hanya dilakukan oleh uskup dan imam masing masing.
Perayaan Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Malam Paskah dan Minggu Paskah dilakukan di katedral, kapel keuskupan, gereja paroki, kapel radio Suara Wajar tanpa kehadiran umat.
Disiarkan langsung via live streaming, liturgi Minggu Palma dilakukan tanpa perarakan bersama umat. Liturgi bacaan kisah sengsara atau Passio tetap dilakukan tanpa umat.
“Dalam keprihatinan masa Pandemi Covid-19 ini bisa menjadi refleksi untuk menyambut Kristus seperti umat di Yerusalem menyambut raja yang mengasihi kita dengan cinta tanpa batas sepenuh jiwa raga hingga sengsaranya,” ungkap Uskup Yohanes Harun Yuwono dalam misa secara live streaming, Minggu (5/4/2020).
Uskup Yohanes Harun Yuwono yang memimpin Ekaristi mengawali pemberkatan daun palma di atas altar. Kepada umat yang mengikuti Ekaristi di rumah ia meminta agar daun palma juga disiapkan. Menggunakan air suci, pemberkatan dilakukan pada daun palma sekaligus bagi daun palma milik umat yang ada di rumah.
Usai pemberkatan daun palma, liturgi dilanjutkan dengan pembacaan Injil kisah sengsara yang diambil dari Matius 26:14-27.66.
Liturgi passio dalam kondisi normal kerap ditampilkan dalam kisah drama penyaliban Yesus atau dikenal dengan tablo. Meski dirayakan dengan live streaming uskup menyebut umat diajak tetap menjalankan Pekan Suci dengan penuh keprihatinan.
Pada homili Minggu Palma, Mgr. Yohanes Harun Yuwono menyebut kematian bisa diakibatkan penyakit. Covid-19 merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan kematian dan berimbas ketakutan.
Ketakutan akan virus Covid-19 ikut dipengaruhi oleh peran media sosial. Peranan gawai yang saat ini menyebarkan informasi termasuk Covid-19 menjadikan ketakutan bertambah.
“Allah tentunya tidak menghendaki penderitaan bagi manusia secara pribadi dan orang banyak yang diciptakan serupa dengan gambar-Nya,” terangnya.
Allah yang maharahim, maha baik justru berkorban dengan kerelaan tanpa batas. Ia ingin membela manusia agar martabat sebagai gambar diri Allah bisa dipulihkan.
Kerelaan tersebut diperlihatkan dalam diri Yesus Kristus yang menderita dengan keji. Melalui kematian Yesus menjadi suluh bagi penebus sebagai ganti kelemahan manusia dengan Keilahian-Nya.
Melalui kegiatan tetap berada di rumah, uskup Yohanes Harun Yuwono mengajak untuk peduli kepada sesama. Secara khusus ia mengajak umat Katolik ikut mendoakan, mendukung semua tenaga medis, relawan yang berjuang untuk memerangi Covid-19.
Sebab tenaga medis harus berjuang menyabung nyawa demi kesembuhan orang-orang yang telah terkena penyakit itu.
“Kita doakan agar penderitaan di dunia ini akibat Covid-19 segera berakhir dan tetap berdiam di rumah sebagai bentuk solidaritas kepada sesama,” tegasnya.
Solidaritas umat Katolik dilakukan dengan melakukan bantuan semampu mungkin. Sikap senasib sepenanggungan dilakukan dengan tetap berdiam diri di rumah.
Doa juga diharapkan kepada pemerintah yang berjuang agar bisa mengatasi Covid-19. Keyakinan Allah tidak menghendaki penderitaan juga menjadi refleksi Pekan Suci.
Tinggal di rumah menjadi cara menyelami karya keselamatan Allah dalam Pekan Suci. Pekan suci jelang Paskah menjadi kesempatan untuk semakin mencintai sesama.
Terlebih pada tahun Kitab Suci di Keuskupan Tanjung Karang bisa dimanfaatkan untuk merenungkan karya keselamatan dalam Kitab Suci. Berdiam diri di rumah menjadi bentuk solidaritas kepada sesama yang menderita agar memutus mata rantai Covid-19.
Yohanes Widodo, ketua Stasi Santo Petrus dan Paulus Penengahan, Lamsel menyebut Minggu Palma diikuti umat via Live Streaming. Berbeda dengan tahun sebelumnya perayaan Minggu Palma dirayakan pada seluruh gereja Katolik di Lampung dengan liturgi perarakan.

Terakhir perayaan Minggu Palma dirayakan pada Minggu (5/4/2019) dan tahun ini tidak bisa dirayakan langsung.
“Sudah diimbau agar Pekan Suci bisa diikuti melalui live streaming tanpa mengurangi makna karena berkat tetap bisa diperoleh,” ungkapnya.
Pekan Suci yang diawali dengan Minggu Palma menurut Yohanes Widodo akan dilanjutkan dengan sejumlah perayaan. Meski diikuti secara live streaming perayaan yang diikuti meliputi Kamis Putih, Jumat Agung, Malam Paskah dan Minggu Paskah.
Live streaming diakuinya bisa diikuti melalui Radio Suara Wajar dan link Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang yang telah dibagikan kepada seluruh umat.s
Christeva, salah satu umat Katolik yang kerap menjadi petugas liturgi mengaku ikut Minggu Palma secara live streaming. Pertama kali dalam sejarah ia menyebut pekan suci diikuti dengan tetap berada di rumah imbas Covid-19.
Meski demikian liturgi Ekaristi tetap diikutinya dengan khidmat selama masa Pekan Suci hingga Paskah yang akan dirayakan pada Minggu (12/4) mendatang.