Ikatan Apoteker bagikan ‘Hand Sanitizer’ dan Masker di Pasar Alok

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Merebaknya wabah Corona membuat berbagai pihak turut memberikan bantuan kepada sesama yang membutuhkan untuk pencegahan penularan virus Corona termasuk Ikatan Apoteker Indonesia cabang Sikka.

Para apoteker membagikan hand sanitizer, vitamin C dan obat herbal kepada para pedagang di pasar Alok, kabupaten Sikka, provinsi NTT yang belum memiliki masker apalagi hand sanitizer.

“Kami membagikan 100 botol hand sanitizer dan ribuan tablet vitamin C serta obat herbal kepada para pedagang di pasar Alok,” kata ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) cabang Sikka, Fransiska Sinandona Nona Rusli, Minggu (5/4/2020).

Ketua Ikatan Apoteker Indonesia cabang Sikka, Fransiska Sinandona Nona Rusli saat ditemui di pasar Alok, Minggu (5/4/2020). Foto: Ebed de Rosary

Fransiska mengatakan, semua bantuan tersebut diperoleh dari apotek-apotek yang ada di kabupaten Sikka yang memberikan sumbangan untuk dibagikan kepada masayarakat yang membutuhkan.

Pasar Alok dipilih kata dia, karena para pedagang kebanyakan merupakan pedagang kecil yang datang dari desa-desa dan memiliki pendapatan terbatas serta rentan sekali tertular Corona. Sebab tidak menggunakan masker dan sarung tangan.

“Pengguna pasar kan rata-rata dari golongan ekonomi menengah ke bawah dan pasti mereka sulit untuk membeli masker apalagi harganya sudah mahal. Apalagi dagangan mereka banyak yang tidak laku terjual,” jelasnya.

Pembagian hand sanitizer yang dilakukan tambah Fransiska, merupakan tahap kedua dimana sebelumnya IAI cabang Sikka telah memberikan bantuan kepada tenaga kesehatan di kabupaten Sikka, bupati, wakil bupati dan para camat.

Pembagian tahap pertama sebanyak 200 botol dan sudah dibagikan kepada setiap Puskesmas, tenaga kesehatan dan para pejabat sehingga stok alkohol berkurang sehingga tahap kedua hanya dibuatkan sebanyak 100 botol saja untuk dibagikan.

“Selain membagikan hand sanitizer dan vitamin, kami juga memberikan penjelasan mengenai pencegahan penularan penyakit Corona kepada setiap pedagang yang ditemui di pasar Alok,” terangnya.

Fransiska berharap para pedagang tetap berjualan tetapi tetap memperhatikan imbauan pemerintah soal physical distancing terutama menyiapkan diri dengan alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan.

Sementara itu Rosalina Mude, salah seorang pedagang yang ditemui mengaku, terpaksa berjualan di pasar Alok tanpa menggunakan masker karena harganya mahal. Dirinya membeli satu masker dengan harga Rp.10 ribu.

Masker tersebut sudah seminggu dipakai sehingga dirinya tidak menggunakan lagi karena sudah kotor dan tidak memiliki uang untuk membeli masker lagi. Karena penjualan sayuran sedang sepi.

“Pendapatan kami turun drastis sehingga kalau dapat uang kami pergunakan untuk membeli beras. Kalau beli masker lagi uang kami dari mana karena penjualan sedang sepi bahkan sering libur berjualan,” tuturnya.

Lihat juga...