Padi Milik Petani Lamsel Roboh Akibat Angin Kencang

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Hujan deras, angin kencang berimbas tanaman padi milik petani di Desa Kelaten, Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel) roboh. Hal tersebut memaksa petani panen lebih awal dan berdampak kepada kualitas beras.

Sumiran, salah satu petani padi di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan melakukan perontokan padi dengan sistem gebyok, Senin (13/4/2020). Foto: Henk Widi

Sumiran, petani di Desa Pasuruan menyebut sebagian tanaman padi yang roboh akan memasuki masa panen dua pekan lagi. Ia yang memiliki padi usia 112 hari mengaku terpaksa melakukan proses panen lebih awal.

“Normalnya dipanen saat memasuki usia 120 hari. Panen yang dipercepat beberapa hari agar gabah tidak semakin lembab dan membusuk,” terang Sumiran saat ditemui Cendana News pada lahan sawahnya, Senin (13/4/2020).

Tanaman padi yang roboh menurut Sumiran merata di sejumlah petak sawah milik petani. Namun ia menyebut varietas padi yang roboh dominan jenis Ciherang, Pandan Wangi dengan batang tinggi. Sebagian padi varietas IR 64 batang pendek tetap tegak berdiri tanpa alami roboh.

“Sebelum panen bagi petani yang masih memiliki waktu kerap melakukan proses membuang air di petak sawah dan menegakkan batang padi roboh dengan proses mengikat batang agar lebih mudah saat pemanenan,” terang Sumiran.

Imbas tanaman padi roboh ia memastikan proses pemanenan harus dilakukan manual. Pada kondisi normal padi yang tegak bisa dipanen dengan memakai mesin pemanen (combine harvester). Namun proses pemanenan hanya bisa dilakukan dengan sistem memotong padi gunakan sabit.

“Selain proses pemanenan yang lama saat penjemuran akan butuh waktu lama karena bulir padi basah,” cetusnya.

Harga gabah kering panen (GKP) menurutnya pada sejumlah pengepul normalnya mencapai Rp3.800 per kilogram. Padahal dengan kondisi yang bagus GKP bisa mencapai Rp4.200 per kilogram. Sementara dalam kondisi normal gabah kering giling (GKG) mencapai Rp5.000 dan dalam kondisi kualitas jelek imbas padi roboh hanya mencapai Rp4.900 per kilogram.

Angin kencang disertai hujan yang terjadi hampir dua pekan sebelum panen menurut Suwarti merugikan petani. Sebagian padi yang belum matang sempurna terpaksa dipanen agar bisa cepat dijemur.

Imbas tanaman padi roboh, Suwarti petani lainnya, menyebut akan berimbas kualitas gabah dan beras rendah. Proses pejemuran yang dilakukan saat cuaca mendung berimbas beras berwarna kecoklatan.

Kualitas beras yang rendah membuat harga jual semula Rp12.000 bisa anjlok menjadi Rp9.500 per kilogram. Sebagai solusi hasil panen hanya dipergunakan untuk konsumsi sendiri.

Lihat juga...