Nelayan Lamsel Tetap Produktif di Tengah Pandemi Covid-19

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Imbauan menjaga jarak aman (physical-social distancing) sebagai protokol kesehatan mencegah Covid-19, dijalankan oleh nelayan pesisir Timur Lampung Selatan. Namun, hal demikian tak berarti para nelayan berhenti beraktivitas.

Havis, salah satu nelayan tangkap di Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, menyebut desa setempat telah memberlakukan karantina lokal untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Karantina lokal yang dilakukan pada kampung nelayan dilakukan dengan pembuatan portal dari bambu, yang dipasang di sejumlah titik jalan masuk. Sebagai desa yang memiliki pantai, pembatasan pengunjung asal luar wilayah, terutama dari zona merah ketat dilakukan.

Menurut Havis, pantai Agro yang kerap ramai dikunjungi sebagai pusat pencarian kerang putih telah ditutup. Sejumlah pencari kerang asal kecamatan dan desa lain sementara tidak diperkenankan masuk. Langkah tersebut menjadi bagian protokol kesehatan melindungi warga kampung nelayan dari kemungkinan penularan Covid-19.

Kawasan pantai Agro Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, sementara waktu ditutup, Jumat (17/4/2020). -Foto: Henk Widi

“Kami menerapkan jarak aman dalam melakukan aktivitas sesuai imbauan gugus tugas pencegahan Covid-19 yang ada di desa Legundi, melarang aktivitas warga dari luar wilayah selama masa karantina lokal di desa kami,” terang Havis, Jumat (17/4/2020).

Kawasan pantai yang kerap ramai oleh pendatang untuk membeli ikan, rumput laut, kerang hijau sementara dibatasi. Meski karantina skala lokal, Havis menyebut cara tersebut efektif dilakukan. Sejumlah petugas akan melakukan penjagaan di pintu masuk jalan kampung. Setiap kendaraan akan disemprot dengan cairan disinfektan, mencegah potensi pemaparan virus Covid-19.

Bagi sebagian nelayan karantina lokal sebagai protokol kesehatan tidak mengganggu aktivitas. Sebab, nelayan yang melaut dengan kegiatan mencari ikan terbiasa tidak berkontak dengan orang lain. Sebagai nelayan tangkap dengan memakai pancing rawe dasar, ia kerap berangkat pagi hari dan pulang sore hari. Di sela memancing, ia juga bisa memeriksa budi daya rumput laut.

“Hampir selama dua pekan karantina lokal bagi kampung kami diberlakukan, dan tidak mempengaruhi mata pencaharian kami,” cetus Havis.

Pencari ikan sembilang itu, menyebut umpan dari teripang bisa memberinya penghasilan. Sebab, ikan sembilang yang dipancing bisa digunakan sebagai bahan baku ikan asap.

Pengumpulan ikan asap bisa dijual kepada sejumlah pemesan untuk kebutuhan keluarganya. Beraktivitas tanpa berkumpul dengan banyak orang, menurutnya masih tetap bisa menghasilkan sumber pendapatan bagi keluarga.

Nelayan lain bernama Hasanudin, juga mengaku tetap produktif meski ada karantina lokal. Kegiatan yang dilakukan oleh nelayan kerap tanpa melibatkan orang banyak. Terlebih sebagai nelayan tangkap, ia bisa mencari ikan sekitar satu mil dari pantai. Kegiatan sebagai nelayan budi daya tetap dilakukan dengan menanam rumput laut

“Pembatasan sosial dengan jaga jarak, tidak berkerumun merupakan hal rutin yang kami lakukan,” bebernya.

Saat berada di daratan, sebagian nelayan masih tetap bisa bersosialisasi. Saat perbaikan perahu dengan jarak dua meter, ia dan rekan sesama nelayan masih tetap bisa bekerja. Saat panen rumput laut, pembudidaya bisa hanya membutuhkan tenaga kerja tiga orang. Kearifan lokal masyarakat kampung nelayan menerapkan jaga jarak jadi hal lumrah di Desa Legundi.

Amran Hadi, pembudidaya kerang hijau, menyebut pandemi Covid-19 tidak membuat kuatir warga kampung nelayan. Sebab, kegiatan warga yang dominan di laut dengan udara mengandung garam justru menyehatkan pernapasan. Penutupan kawasan tempat pencarian kerang selama masa pandemi Covid-19, justru berdampak ke sektor ekonomi.

“Dampak kesehatan belum ada warga yang terpapar Covid-19, namun warga kampung nelayan kesulitan memasarkan produk,” terang Amran Hadi.

Penerapan protokol kesehatan disebutnya tetap dipatuhi warga kampung nelayan. Produktivitas hasil panen kerang hijau budi daya, rumput laut dan ikan sembilang asap sulit dijual.

Stok yang cukup melimpah yang mudah terjual berkurang imbas sepinya pembeli. Sejumlah rumah makan yang tutup, usaha kuliner berimbas produk nelayan belum terjual, sehingga stok masih tersimpan.

Lihat juga...