Hadapi Ramadan, Pasokan Pangan di Sumbar Cukup
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
PADANG – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memastikan bahwa pasokan pangan di daerah itu mencukupi dalam menghadapi bulan Ramadan dan juga menjalani masa-masa wabah Covid-19 ini.
Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, menegaskan untuk saat ini kesediaan pasokan bahan pangan di Sumatera Barat masih mencukupi kebutuhan masyarakat. Persedian bahan pangan Bulog cukup untuk 4-5 bulan ke depan.

Hal ini dibuktikan dengan rincian stok beras 8.800 ton (dalam proses pengadaan 4.000 ton), gula pasir 350 ton, daging beku 10 ton, minyak goreng 4.000 liter, dan tepung terigu 18 ton. Adanya ketersedian pangan itu, karena saat ini Sumatera Barat memasuki masa panen, dengan perkiraan bulan depan.
“Jadi akan ada panen bawang putih dengan luas lahan 150 hektare. Rata-rata produktivitas bawang putih sebanyak 10 ton per hektar. Diperkirakan akan surplus pasokan bawang putih sebanyak 1.500 ton,” katanya dalam video conference di Padang, Rabu (22/4/2020).
Selain itu juga ada panen beras, bawang merah dan cabai merah, dengan rincian untuk beras bulan Mei sebanyak 271.377 ton dan Juni 214.699 ton. Sementara panen bawang merah di bulan Mei sebanyak 12.896 ton dan bulan Juni 10.000 ton. Untuk cabai merah diperkirakan panen bulan Mei sebanyak 66.000 ton dan bulan Juni sebanyak 75.000 ton.
Menurutnya, berdasarkan data produksi dan konsumsi bahan pangan di Sumatera Barat cenderung surplus pasokan. Sehingga Sumatera Barat banyak berperan sebagai daerah pemasok bagi wilayah lain di kawasan Sumatera, maupun wilayah pulau Jawa.
“Untuk sementara komoditas yang cenderung defisit adalah bawang putih dan gula,” ungkapnya.
Sementara Tim Pengendalian Inflansi Daerah (TPID) Sumatera Barat akan melaksanakan upaya pengendalian inflasi dengan penjualan bahan pangan oleh Toko Tani Indonesia Center (TTIC) Sumatera Barat, melalui media pemasaran online (gojek).
Hal ini dilakukan dalam rangka memastikan ketersediaan pasokan dan menjaga kestabilan harga pangan di tengah risiko kenaikan harga tinggi akibat penyebaran wabah Covid-19.
“Alternatif lain pelaksanaan operasi pasar di tengah imbauan social distancing dengan melalui penjualan paket sembako murah secara online oleh TTIC,” sebutnya.
Sedangkan Bulog terus melakukan upaya pengendalian harga beras melalui operasi pasar yang rutin kepada pedagang dan distributor. Selama masa berlaku PSBB maka operasi pasar akan diubah dengan dengan penjualan melalui sistem online.
Menanggapi situasi dari Sumatera Barat itu, yang melalui video conference bersama Gubernur se-Sumatera dengan Kepala perwakilan Bank Indonesia se-Sumatera tersebut, ada keinginan yang baik dari pihak Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Utara.
Kabar baik itu, yaitu dengan jalan Kerjasama Antar Daerah (KAD) atau perdagangan antar daerah menjadi salah satu jalan alternatif dalam memastikan tersedianya pasokan produk atau komoditas tertentu, sehingga fluktuasi harga dapat diredam ketika suatu daerah tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri.
Di kesempatan itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Utara, Wiwiek Sisto Widayat, mengatakan, di tengah penyebaran wabah Covid-19, Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi Tahunan Sumatera triwulan I (Maret) tetap terkendali dan aman.
Tercatat sebesar 0,55 persen dari tahun ke tahun. Capaian ini masih rendah dari kumulatif nasional pada periode yang sama yaitu sebesar 0,76 persen. Namun terdapat tekanan dari inflasi beberapa komoditas pangan strategis (bahan pokok) antara lain cabai merah, bawang putih, bawang merah, minyak goreng dan gula pasir.
“Belum seluruh provinsi mampu memenuhi kebutuhan pangannya. Beberapa provinsi di Sumatera tercatat masih defisit,” ujarnya.
Menurutnya hal itu membuat beberapa daerah memiliki ketergantungan pasokan dari daerah penghasil (sentra). Akibatnya harga non sentra harga komoditas cenderung lebih tinggi.
Di sisi lain, banyak distributor memanfaatkan kondisi bencana pandemi Covid-19 dengan melakukan penimbunan. Ditambah lagi konsumen melakukan belanja berlebihan.