Imbas Covid-19 di Jateng, Industri Pengolahan Paling Terdampak

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Penyebaran wabah Covid-19 yang semakin luas, mendorong respon kebijakan yang diambil menjadi semakin ketat.

Hal tersebut telah berdampak pada pertumbuhan ekonomi Jateng, yang diperkirakan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.

Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Perwakilan ((KPw) Bank Indonesia Jateng, Soekowardojo, di Semarang, Rabu (22/4/2020) petang.

“Penurunan perekonomian ini terjadi melalui beberapa kanal seperti perdagangan dan layanan, investasi, dan penghasilan. Kombinasi penurunan dari kanal-kanal tersebut mampu menurunkan pertumbuhan ekonomi Jateng, pada kisaran 0,51% hingga 1,53% dari baseline,” paparnya.

Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) di Jateng, juga mengindikasikan kegiatan dunia usaha pada triwulan I 2020 mengalami penurunan hingga -13,92 persen.

“Sembilan dari 17 sektor usaha mengalami penurunan. Penyumbang terbesar dari sektor industri pengolahan, diikuti oleh sektor perdagangan. Sejalan dengan perkembangan tersebut, penggunaan tenaga kerja dan realisasi investasi, juga mengalami penurunan. Sektor industri pengolahan, juga penyumbang penurunan tenaga kerja dan realisasi investasi tertinggi,” lanjutnya.

Sementara, hasil Survei Konsumen Bank Indonesia kepada 700 responden rumah tangga di Jateng, mengindikasikan bahwa keyakinan konsumen terhadap perekonomian Jateng masih berada pada level optimis atau di atas 100.

Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2020, sebesar 129,92, meskipun tidak sekuat optimisme konsumen pada bulan Februari 2020 dengan IKK sebesar 132,29.

Soeko menambahkan, sejalan dengan kecenderungan perlambatan perekonomian dan perubahan tingkat harga komoditas, KPw BI Jateng bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Jateng, melihat adanya potensi tekanan permintaan, khususnya menjelang Ramadan.

“TPID Jateng terus berupaya menjaga kondisi pasokan beberapa komoditas strategis, agar memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan selama pandemi covid-19 berlangsung,” tambahnya.

Ditegaskan, dari pantauan TPID Jateng, beberapa komoditas strategis yang memasuki masa panen seperti bawang merah, cabai, dan beras.

“Pada bulan April-Mei 2020 ini, sejumlah bahan komoditas kita perkirakan segera panen raya. Di antaranya, beras dengan produksi 1,491 juta ton, cabai merah 321 ribu ton, bawang merah 348 ribu ton, hingga daging ayam ras mencapai 71 ribu ton.

“Walaupun kondisi produksi mencukupi karena panen, namun kita perkirakan akan terjadi kesenjangan antara permintaan dan penawaran. Hal ini diakibatkan kendala jalur distribusi akibat wabah covid-19. Seperti kita ketahui sejumlah ruas jalan dan wilayah dilakukan penutupan, selama pandemi berlangsung,” ungkap pria, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua TPID Provinsi Jateng tersebut.

Diperkirakan, kondisi tersebut menyebabkan penumpukan hasil produksi di tingkat petani, karena tidak dapat disalurkan secara lancar ke pasar-pasar utama, mengingat kegiatan distribusi semakin terbatas dan aktivitas transaksi di pasar juga semakin rendah.

“Kesenjangan tersebut, diperkirakan akan mempengaruhi harga di level konsumen. Jika ini tidak diatasi, harga komoditas bisa melambung,” tegas Soeko.

Pihaknya memastikan TPID Jateng akan mengambil langkah-langkah, guna mengatasi persoalan tersebut, sehingga kestabilan harga dan pasokan bahan pangan strategis tetap terjaga.

“TPID Jateng terus berupaya untuk memastikan ketersediaan barang, sesuai kebutuhan selama Ramadhan 1441 H dan pandemi covid-19 berlangsung. Kita juga mengimbau agar masyarakat, dapat bijak dalam berbelanja. Demikian juga bagi para pedagang, agar tidak menimbun bahan pokok. Kita juga dorong melakukan penjualan secara online untuk memutus rantai penyebaran covid-19,” pungkasnya.

Lihat juga...