Stok Gula Pasir di Gudang Bulog Sumbar Kosong

Editor: Makmun Hidayat

PADANG — Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional Sumatera Barat mengakui saat ini stok gula pasir di gudang Bulog kosong. Kini Bulog tengah menunggu pasokan stok gula pasir dari pemerintah pusat dengan usulan sebanyak 1.000 ton. 

Kepala Bulog Divre Sumatera Barat, Tommy Despalingga, mengatakan, kondisi stok gula pasir kosong di gudang Bulog telah terjadi sejak pertengahan Januari 2020 lalu. Kekosongan stok diakibatkan pasokan yang masuk ke Bulog telah menurun sejak Desember 2019 lalu.

“Kosong nya stok gula pasir telah telah terjadi pertengahan Januari 2020 ini. Sebenarnya tidak kosong betul, ada sedikit, tapi tidak untuk didistribusikan ke pasar. Tapi diperuntukkan bagi Rumah Pangan Kita (RPK), yang merupakan program Bulog menjangkau masyarakat lebih luas mendapatkan harga pangan lebih murah,” katanya, Rabu (4/3/2020).

Ia menjelaskan salah satu penyebab kosongnya pasokan gula pasir yang terjadi tidak hanya di Sumatera Barat, tapi juga secara nasional, salah satu diakibatkan belum dimulai penggilingan gula pasir yang ada di berbagai daerah di Indonesia seperti di Lampung, Jawa Timur, dan beberapa daerah lainnya.

Untuk mengantisipasi terjadinya kekurangan stok secara nasional ini, Tommy menyebutkan, pemerintah pusat tengah berupaya mengimpor gula pasir. Hal ini dilakukan karena akan meningkatnya kebutuhan pangan pada jelang Ramadan dan lebaran nanti.

“Kabar baiknya pemerintah pusat melakukan impor gula pasir. Diperkirakan dua pekan lagi pasokan gula pasir akan masuk ke seluruh daerah, termasuk untuk Sumatera Barat,” ujarnya.

Selain itu, petani di Indonesia juga akan memulai penggilingan gula pasir pada April 2020 mendatang. Artinya, jika nanti penggilingan sudah dilakukan, maka kondisi stok gula pasir bakal kembali normal.

Bulog berharap, masyarakat tidak resah adanya kondisi yang terjadi kini soal stok gula yang kosong di gudang. Karena sejauh ini dari pantauan di lapangan, gula pasir kemasan masih di dijual di warung kalontong dan juga mini market.

“Kalau di gudang Bulog memang lagi kosong. Tapi yang tengah di jual di pasar masih ada. Cuma informasinya harganya mahal, tidak sesuai HET (Harga Eceran Tertinggi) lagi,” jelasnya.

Tommy menyebutkan, ke tahun sebelumnya, Bulog masih mampu untuk menyalurkan gula pasir sebanyak 50 hingga 100 ton per bulannya. Jika dikakulasikan per tahunnya itu, gula pasir yang didistribusikan oleh Bulog Divre Sumatera Barat mencapai 900 ton.

Kini, dengan kosongnya stok gula pasir di gudang Bulog di Sumatera Barat, pihaknya telah mengajukan permintaan pasokan sebanyak 1.000 ton untuk keperluan selama 1 tahun. Jumlah gula pasir yang diusulkan ke pemerintah pusat untuk itu, akan dipenuhi apabila pasokan gula pasir impor telah masuk ke Indonesia.

“Kalau harga HET untuk gula pasir Rp12.500 per kilogram. Sekarang ada yang dijual Rp14.000 hingga Rp16.000 per kilogramnya. Kita ingin sekali membantu masyarakat menjual gula pasir lebih murah seperti di operasi pasar, tapi kita tidak punya stok,” sebutnya.

Diakuinya, bahwa Bulog tidak berani membeli gula pasir ke pihak swasta. Hal ini dikarenakan akan sulit bagi Bulog menetapkan harga gula pasir kepada masyarakat. Sebab yang namanya membeli ke pihak swasta, harga akan lebih mahal.

“Artinya jika dipaksakan juga, Bulog lari dari komitmen, yakni menjual komoditi pangan murah dari pasar. Kalau itu kita lakukan, sama saja Bulog dengan pihak lainnya,” ungkapnya.

Sementara itu, salah seorang warga di Padang, Hanna, mengatakan, sangat membutuhkan adanya gula pasir. Selain untuk kebutuhan sajian minum pagi bagi keluarganya, gula pasir turut jadi bahan terpenting untuk membuat adonan kue dan jenis makanan lainnya.

“Ya sekarang gula mahal, saya beli di mini market capai Rp16.000 per kilogramnya. Mau tidak mau harus saya beli juga, karena saya lihat sudah sedikit yang tersedia di rak mini market itu,” jelasnya.

Hanna berharap, pemerintah untuk segera menambah pasokan gula pasir, sehingga gula pasir itu tidak mahal dan bahkan bisa langka di pasar. Apalagi mengingat Ramadan mau datang, gula sangat dibutuhkan masyarakat.

“Saya bingung juga kalau nanti gula pasir benar-benar tidak dijual lagi. Mau apalagi coba, apa harus gunakan gula merah saja ya,” sebutnya.

Lihat juga...