Prospek Menjanjikan Budidaya Melon Apollo
Editor: Makmun Hidayat
SEMARANG — Prospek pertanian melon jenis Apollo, cukup menjanjikan. Di pasaran, melon yang memiliki daging buah berwarna kuning tersebut dihargai Rp 20 ribu per kilogram, dengan berat rata-rata per buah antara 1- 2 kilogram. Potensi ekonomi yang menjanjikan ini, menjadikan buah melon asal Taiwan tersebut, menjadi pilihan petani.
“Budidaya melon Apolo, relatif mudah, namun juga tidak gampang. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Misalnya, agar pertumbuhan buah maksimal, satu pohon diusahakan hanya ada satu buah. Jadi nutrisi terserap sepenuhnya, sehingga cepat besar dan rasanya pun lebih manis,” papar Bayu Setiawan, petugas kebun Greenhouse Melon, di Kebun Buah Purwosari, Mijen, Kota Semarang, Senin (2/3/2020).

Berbeda dengan semangka, yang pertumbuhannya merambat tanah, tanaman melon harus tumbuh ke atas. Caranya dengan diberi ‘lanjaran’ atau penopang, bisa berupa tali namun dikombinasikan dengan kayu, bambu atau besi. Nantinya penopang ini juga berfungsi untuk menggantungkan buah melon, agar tidak menyentuh tanah.
“Perlu diperhatikan bahwa melon Apollo ini tidak boleh kena air secara langsung, sebab bisa rusak dan busuk. Apalagi terkena air hujan, harus segera dicuci dengan air tawar dan dikeringkan, sebab air hujan sifatnya asam, bisa merusak buah. Jadi kalau berbuah, buah tersebut kita tali atau diberi wadah, kemudian digantungkan di penopang,” tambahnya.
Kerentaan akan air ini, menjadikan dalam budidaya melon Apollo, direkomendasikan untuk menggunakan greenhouse atau rumah pelindung, sehingga tidak terkena air hujan secara langsung. Selain itu, juga relatif terlindungi dari hama, seperti belalang atau ulat.
“Paling sederhana greenhouse dengan tutup plastik transparan, sehingga sinar matahari tetap bisa masuk. Selain itu karena modelnya tertutup, hama juga relatif tidak bisa masuk. Jadi lebih terlindungi,” terangnya.
Dalam pembudidaya melon jenis ini, sebaiknya menyiapkan tanaman ini dengan baik sedini mungkin. Sebelum disemai, bibit melon Apollo yang berupa biji melon kering sebaiknya dikecambahkan terlebih dahulu.
“Setelah berkecambah, baru kemudian dipindahkan ke polybag, dengan media tanam sekam bakar dan pupuk kandang, dengan perbandingan 1:1. Saat sudah mulai tumbuh dan merambat, juga harus diperhatikan pertumbuhannya sesuai dengan jalur tali penopang yang disediakan. Pertumbuhannya relatif cepat, rata-rata sehari pertumbuhannya bisa 5-7 centimeter,” lanjutnya.
Pemupukan tanaman ini harus dilakukan selama satu minggu sekali. Selain itu, setelah berumur 21 hari, pembudidaya harus menambahkan pupuk yang mengandung unsur kalium agar bunga tak cepat rontok.
Selain itu, pada musim penghujan, untuk menghindari jamur pada daun dan buah, dilakukan penyemprotan tiga kali seminggu, dengan menggunakan fungisida.
“Nantinya, melon Apollo bisa dipanen setelah 75 hari, dihitung mulai dari awal penanaman. Jika dihitung dari proses pembibitan, sekitar tiga bulan,” tambahnya.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, petani juga harus rajin memeriksa tanaman tiap hari. Jangan sampai ada hama, virus, atau penyakit lainnya, yang menyerang tanaman. “Termasuk ulat, cek satu satu, kalau ada ya harus diambilin. Memang harus teliti dan telaten, dalam merawat tanaman ini,” ungkap Bayu lebih jauh.
Pihaknya pun membuka kesempatan bagi masyarakat atau petani, yang ingin belajar budidaya melon Apollo. Bisa langsung datang ke Kebun Buah Purwosari, Mijen, Kota Semarang.