PROF. DR. ERANI YUSTIKA: MANUSIA PANCASILA MENYEIMBANGKAN JASMANI-ROHANI
Prof. Dr. Erani Yustika menyebutkan, setelah membaca banyak buku, yang paling berharga dari buku Sistem Demokrasi Pancasila ini adalah mencoba untuk memberi makna dari Pancasila maupun konstitusi. Yakni menulis bab terlebih dahulu mengenai hakikat manusia, asumsi mengenai manusia.
Tidak banyak buku yang menulis mengenai sistem ekonomi di Indonesia atau disebut juga sistem ekonomi Pancasila, sistem ekonomi kerakyatan dan seterusnya. Di buku ini, terlebih dulu mendudukkan bagaimana sebetulnya asumsi mengenai manusia itu.
“Pengetahuan dan pemaknaan terhadap manusia yang akan menentukan bagaimana kemudian, instrumen-instrumen ekonomi itu dirancang,” sebutnya dalam Peluncuran Buku Sistem Demokrasi Pancasila Jakarta Selatan, Rabu (11/3/2020).
Disebutkan, kalau belajar ilmu ekonomi, di kelas hari pertama, dalam mata kuliah ekonomi makro maupun Ekonomi Mikro akan diajarkan bahwa asumsi manusia itu adalah perilaku untuk menguntungkan diri sendiri.
“Perilaku untuk menguntungkan diri sendiri, mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, untuk kepentingan individu. Itulah yang menjadi dasar kenapa kemudian muncullah teori-teori ekonomi pasar, ekonomi kapitalis,” terangnya.
Keseluruhan sistem tersebut memang dirancang untuk memastikan individu tersebut dapat memanfaatkan sumber daya ekonomi untuk mencapai kesejahteraan individu.
“Makanya tidak boleh ada halangan bagi individu untuk masuk maupun keluar dari pasar, itu salah satu diktum dari ekonomi kapitalis, itu dirancang karena asumsi mengenai manusia,” sebutnya.
Kemudian ada varian lain yang lebih moderat misalnya ekonomi kelembagaan, asumsi mengenai manusia adalah pribadi-pribadi yang cenderung akan melakukan penyimpangan, jika itu mungkin dilakukan.
“Akan ada praktek dimana seseorang cenderung untuk melakukan penyimpangan, melanggar aturan. Selama dengan menyimpang tadi, dia memperoleh keuntungan yang lebih besar ketimbang mengikuti aturan. Instrumen ekonomi yang didorong adalah bagaimana kita menyusun aturan main yang memungkinkan pribadi-pribadi yang cenderung melakukan penyimpangan itu menjadi taat dengan kesepakatan,” sebutnya.
Pindah lagi ke ekonomi sosialis, asumsi mengenai manusia berbeda dengan yang pertama, ini dipakai menjadi manusia yang diandaikan itu individu-individu yang bergerak bersama-sama untuk kepentingan kolektif. Namun ia tidak diberikan ruang untuk melakukan aktivitas apapun termasuk di bidang ekonomi, di bidang politik dan seterusnya.
“Keseluruhannya diatur oleh negara,” sebutnya.
Yang berharga dari buku ini adalah menempatkan halaman pertama bab pertama mengenai hakikat manusia, karena dari situlah kemudian akan menyusun bagaimana tercipta keseimbangan antara individu dengan sosial. Manusia itu makhluk yang memiliki intensi kepada kepentingan pribadi dan sekaligus kepentingan sosial.
Yang kedua, yang menjadi hakikat dari manusia Pancasila itu adalah menyeimbangkan antara aspirasi jasmani dengan rohani. Dari titik itulah kemudian buku ini berangkat untuk menyusun hal-hal yang lebih operasional, yang lebih teoritis.
“Untungnya adalah, buku ini membahasnya dan saya kira ini kemajuan dibandingkan dengan buku-buku sejenis yang lain untuk kita berbicara mengenai sistem ekonomi Pancasila,” sebutnya.