Pengembang: Harga Jual Kios Pasar Bantargebang tak Bisa Diubah
Editor: Koko Triarko
BEKASI – Menajemen perusahaan pelaksana revitalisasi pasar Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, Nathan Yuda, menegaskan harga jual kios di pasar tersebut sudah disepakati dan tidak bisa diubah lagi.
“Harga jual Kios Pasar Bantargebang setelah revitalisasi munculnya dari pedagang. Lagian harga tersebut di bawah harga standar pemerintah,” klaim Yudha, menanggapi permintaan pedagang yang meminta harga jual kios di Pasar Bantargebang bisa turun, Rabu (18/3/2020).
Dikatakan, harga kios mulai dari Rp17 juta per meter. Masalah harga jual sudah tercantum dalam perjanjian kerja sama, artinya sudah melibatkan semua pihak, baik pengembang, pedagang dan lainnya.

Revitalisasi Pasar Bantargebang sudah dimulai dengan merelokasi warung atau lapak yang berada di sekitar lokasi pasar, pada Rabu (18/3/2020). Selanjutnya pengembang akan melakukan pembangunan TPS dan pedagang bisa dikeluarkan dari pasar untuk dilakukan renovasi semua yang tak berguna.
“Kami ingin pembangunan pasar ini segera berjalan secepatnya. Sebab, kami hanya diberi waktu dua tahun dan sekarang sudah lima bulan melalui waktu,” kata Yuda.
Dia juga menjawab soal revitalisasi yang dilakukan tidak membangun ulang gedung pasar, dengan mengatakan bahwa revitalisasi jangan diartikan satu makna, ada tiga hal yang dikerjakan dalam revitalisasi meliputi rehabilitasi restorasi.
“Apa pun namanya memperbaiki, yang ndak baik jadi baik, yang ga nyaman menjadi nyaman. Itu namanya revitalisasi. Kami tidak hanya memperbaiki gedung, tapi melakukan penataan ulang kios dan los menjadi zoning,” tegas Yudha.
Diketahui setelah selesai perbaikan pasar Bantargebang akan dikelola PT Javana selama 20 tahun ke depan. Rencananya di lantai atas pasar akan ada gerai pelayanan publik.
Pasar Bantargebang, imbuhnya, akan menjadi pasar lebih nyaman, indah, rapi dan sehat, sehingga harapannya untuk mendogkrak kemajun pasar.
Kepala Pasar Bantargebang, Jayad,i terpisah mengakui bahwa persoalan harga jual kios itu dari pengembang. Namun dia menegaskan, bahwa dalam revitalisasi sudah melibatkan semua pedagang pasar melalui sosialisasi.
“Tentu tidak semua pedagang diundang saat sosialisasi. Jumlahnya mencapai 1.500 pedagang. Tapi diambil dari Kelompok Usaha (KUS) sebagai perwakilan masing-masing,” tandas Jayadi.
Dia juga menegaskan, bahwa protes yang terjadi dari pedagang pasar baru sekarang muncul. Jayadi juga mengaku pedagang di bagian bawah dalam pasar banyak yang mengeluh.
Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa pihaknya juga sudah menyediakan tempat sementara bagi pedagang yang dilakukan relokasi di areal pasar di tempat dalam pasar. Sesuai data, ada 175 orang pedagang yang direlokasi ke dalam pasar.
Sementara perwakilan pedagang pasar atau Ketua P3D Pasar Bantargebang, Mulya, mengaku pedagang pasar pada intinya sudah menerima tempatnya direlokasi. Meskipun diakui sempat meminta waktu ditunda setelah lebaran, tetapi tidak didengar. Pedagang, hanya pasrah.
“Kami sebelumnya sudah dipanggil ke Polres untuk menyampaikan soal relokasi hari ini. Kami bilang, bahwa mengumpulkan kami untuk relokasi sia-sia, karena pedagang pada intinya sudah menerima direlokasi,” tukasnya.
Menurutnya yang menjadi masalah saat ini adalah soal harga kios yang dijual pengembang, karena dinilai terlalu tinggi dan memberatkan pedagang. Apalagi, saat ini kondisi pasar sepi.
Dikonfirmasi apa hasil mediasi dengan DPRD Kota Bekasi, Mulya mengaku tidak bisa menyelesaikan masalah.
“Kami hanya berharap Wali Kota Bekasi bisa melihat langsung kondisi pedagang pasar. Sampai sekarang kami pedagang pasar mengeluhkan masalah pasar belum pernah hadir. Kami hanya ditemui sebatas Kabid Disperindag,” ujarnya.