Pembudidaya Rumput Laut di Lamsel Terkendala Hujan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah nelayan budi daya rumput laut putih atau spinosum di Lampung Selatan, mengaku terkendala hujan, yang menyebabkan proses pengeringan komoditas tersebut menjadi lebih lama.

Asih, pembudidaya rumput laut spinosum di Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, mengatakan, hingga saat ini para pembudidaya masih mengandalkan sinar matahari untuk mengeringkan rumput laut, sehingga musim hujan menjadi kendala.

Menurut Asih, pengeringan rumput laut dengan sinar matahari untuk menurunkan kadar air. Pada kondisi normal, pengeringan rumput laut bisa mencapai empat hari. Namun imbas penghujan pengeringan butuh waktu sekitar sepekan. Ia pun memanfaatkan plastik untuk menutup rumput laut, agar tidak terkena hujan.

Asih, pembudi daya rumput laut di Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Sabtu (7/3/2020). -Foto: Henk Widi

Selain itu, musim hujan juga membuat kualitas  rumput laut berkurang. Sebab, rumput laut yang dijemur dalam kondisi musim penghujan memiliki kadar air yang tinggi. Hal ini berpengaruh pula pada hasil agar-agar rumput laut yang  kualitasnya juga akan menurun. Selain dibuat agar-agar, rumput laut jenis ini juga sering digunakan sebagai es buah.

“Selama penghujan, pengeringan rumput laut tidak maksimal karena harus menggunakan sinar matahari. Idealnya ada tempat pengeringan dengan mesin blower, namun akibat keterbatasan modal, masih mempergunakan proses pengeringan alami,” terang Asih, saat ditemui Cendana News di pantai Legundi, Sabtu (7/2/2020).

Selain menurunnya kualitas, akibat musim hujan ini para pembudidaya rumpur laut juga harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli plastik penutup.

Sementara itu, rumput laut spinosum mencapai Rp10.000 per kilogram. Harga tersebut lebih murah dari rumput laut jenis Katoni yang dijual seharga Rp14.000 per kilogram. Meski penghujan, ia menyebut proses pemanenan rumput laut tetap dilakukan setengah bulan sekali.

“Pemanenan rumput laut bisa dilakukan secara bertahap selama jangka waktu tiga bulan,” bebernya.

Kondisi demikian juga dialami oleh Sanuri. Pembudidaya rumput laut jenis spinosum itu mengatakan, hujan juga menyebakan timbulnya jamur dan kelembaban tinggi. Pembudidaya rumput laut yang memiliki lahan luas menurutnya membuat kumbung atau lokasi penjemuran dalam ruangan.

“Kumbung bisa dipakai untuk proses menganginkan rumput laut, meski tidak ada sinar matahari,” tuturnya.

Hasil panen rumput laut yang telah dijemur dalam masa panen, menurutnya tidak langsung dijual. Pengepul yang akan membawa ke pabrik pengolahan agar-agar kerap membutuhkan sekitar 10 ton. Pengepul rumput laut tersebut membeli dari sejumlah pembudidaya  yang ada di pesisir pantai timur Lamsel. Rata-rata pembudidaya rumput laut akan menjual sekitar 1 ton dalam kondisi kering.

Hasil panen rumput laut kering menurut Sanuri dominan dipesan oleh pabrik agar-agar. Namun sebagian pemilik rumah makan, pemilik usaha minuman es buah kerap membeli untuk bahan baku. Kebutuhan es buah untuk rumput laut rata-rata mencapai 50 kilogram per pekan. Permintaan akan meningkat saat bulan suci Ramadan untuk pembuatan es buah.

Lihat juga...