Petani di Lamsel Tanam Jagung Manis Minimalisir Serangan Ulat Grayak

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG –  Sejumlah petani jagung di Lampung Selatan, memilih menamam jagung manis untuk meminimalisir dampak kerugian akibat serangan hama ulat grayak (Spodoptera frugiperda). Jagung manis memiliki usia panen yang lebih singkat dari jagung hibrida, dan bisa dipanen lebih awal untuk kebutuhan sayur.

Husni, petani jagung di Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, upaya menghindari serangan ulat grayak dengan tanaman jagung manis karena jagung jenis tersebut memikii masa panen yang lebih singkat dari jagung hibrida. Selain itu, juga menanamnya dalam jumlah terbatas, sehingga memudahkan perawatan.

Menuru Husni, selama ini hama ulat grayak menyebabkan daun dan batang tanaman jagung rusak. Hama yang terbilang cukup ganas ini biasa menyerang tanaman jagung usia 7 hingga 14 hari setelah tanam (HST). Serangan ham ini membuat para petani harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli insektisida kontak.

Husni menjelaskan, tanaman jagung hibrida, baru bisa dipanen saat memasuki usia 120 hari. Sementara jagung manis bisa dipanen saat usia 63 hari, sehingga dinilai lebih efektif dan menguntungkan. Penanaman sebanyak 2 kampil atau 10 kilogram membutuhkan lahan setengah hektare.

“Jagung manis sejatinya dipanen saat usia sekitar 80 hari dalam kondisi tua. Namun untuk kebutuhan jagung sayur, bisa dipanen pada usia dua bulan, lebih singkat dari jagung biasa,” tutur Husni, saat ditemui Cendana News, Senin (3/2/2020).

Penanganan tanaman jagung dalam jumlah terbatas dengan waktu panen singkat, membuat perawatan lebih mudah. Khusus untuk lahan penanaman jagung manis, Husni memilih memasang waring menghindari hama ulat grayak, melalui kupu-kupu yang masuk ke area tanaman jagung miliknya. Pengamatan setiap tanaman dengan memeriksa adanya ulat, lebih mudah dilakukan, karena tanaman lebih sedikit.

Pada masa tanam awal tahun, saat serangan ulat grayak menyerang, ia memastikan tanaman jagung miliknya aman. Sebagian tanaman yang lebih dahulu ditanam, bahkan memasuki masa pembungaan.

“Usia dua bulan bisa panen, dan saat tanaman mulai berbunga ulat grayak sudah tidak mau memangsa batang dan daun, karena sudah keras,” tutur Husni.

Menanam jagung manis seluas setengah hektare, ia memprediksi bisa memanen sekitar 500 kilogram. Harga jagung manis di level petani yang dijual Rp6.000 per kilogram, membuat ia bisa mendapat omzet hingga Rp3juta.

Omzet tersebut menurutnya bisa diperoleh dalam waktu dua bulan lebih cepat dibanding menanam jagung biasa. Sebab, jagung biasa harus dipanen saat usia empat bulan dalam kondisi kering.

Petani jagung manis lain, Suroto, menyebut tanaman itu bisa ditumpangsarikan. Ia menanam setengah kampil jagung manis. Usia dua bulan, ia bisa memanen tanaman jagung manis meliputi buah dan tebon atau batang tanaman. Jagung manis sebanyak 250 kilogram menurutnya bisa dihasilkan pada lahan seperempat hektare, dengan omzet sekitar Rp1,5juta.

“Saat ada hama ulat grayak, pemantauan lebih mudah karena jumlah tanaman sedikit dibanding menanam jagung biasa,” papar Suroto.

Hama ulat grayak, menurutnya cukup merepotkan petani. Bagi petani yang memiliki lahan hingga puluhan hektare, penanganan akan lebih sulit. Beruntung, ia memutuskan menanam varietas jagung manis yang bisa dipanen pada usia sekitar 63 hari.

Selain dipakai untuk bahan sayuran, pembeli umumnya merupakan penyedia jagung rebus dan jagung bakar.

Petani penanam jagung biasa jenis hibrida di Desa Sukabaru, Soleh, mengaku hama ulat grayak membuat biaya operasional membengkak. Selama masa serangan di bawah usia 30 hari, ia bisa membasmi hama ulat grayak memakai insektisida kontak.

Jenis insektisida untuk menyemprot ulat grayak dibeli seharga Rp300 ribu per botol. Memasuki usia lebih dari dua bulan, jelang berbunga tanaman mulai pulih.

“Tanaman yang sudah keras tidak disukai ulat grayak, sehingga tanaman bisa pulih, meski produksi bisa menurun,” tuturnya.

Soleh mengaku pada lahan seluas dua hektare, ia menanam bibit sebanyak enam kampil. Pada kondisi normal, ia bisa memanen sekitar 4 ton jagung, namun diprediksi akan turun menjadi sekitar 3 ton akibat serangan ulat grayak.

Lihat juga...