Modal Minim, Usaha Sayuran Warga Pasuruan Untung Berlipat
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
LAMPUNG — Modal minim dan lahan terbatas diiringi kemauan tinggi untuk menciptakan usaha akan membuahkan hasil. Hal tersebut dibuktikan Wiyono dan Parjiati, warga Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel).
Memanfaatkan lokasi dengan kondisi tanah berbatu, kerikil dan tanah lempung di pinggiran sawah, berbagai jenis sayuran tumbuh subur dengan sedikit pengolahan. Bermodalkan belasan karung kotoran kambing, sapi sebagai pupuk, tanah yang diolah menjadi subur.
Modal yang dikeluarkan di antaranya untuk membeli bibit sayuran kangkung cabut (Ipomoea aquatica Forks) dan mentimun (Cucumis sativus). Kedua jenis sayuran tersebut ditanam dengan sistem tumpangsari.
“Modal saya terbatas untuk melakukan usaha, karena ada lahan terbatas dengan potensi bisa digarap budidaya berbagai jenis sayuran bisa ditanam namun memiliki hasil berkelanjutan,” ungkap Wiyono saat ditemui Cendana News, Selasa (11/2/2020)
Penerapan pertanian zero waste farming, sistem pengelolaan lahan pertanian sekaligus peternakan tanpa limbah membuatnya bisa memanfaatkan potensi yang ada. Di antaranya dengan memanfaatkan kotoran ternak untuk pupuk, pemanfaatan air sawah usai dipupuk untuk penyiraman dan sayuran tidak terpakai untuk pakan ternak.
Berbagai jenis sayuran yang ditanam berusia pendek, bahkan bisa dipanen kurang dari satu bulan. Selain kangkung dan mentimun ia menanam kemangi (ocimum x citriodorum), sawi (Brassica rapa), bayam (Amaranthus). Selain itu memanfaatkan sebagian petak sawah untuk menanam sayuran genjer (Limnocharis flava) yang banyak diminati usaha kuliner.
Sektor usaha wiraswata bidang pertanian menurutnya memberi peluang ekonomi menjanjikan. Meski diakuinya sejumlah komoditas sayuran dijual dengan harga minimal Rp1.000 perikat hingga Rp10.000 per kilogram. Namun permintaan rutin harian, mingguan membuat sumber uang terus mengalir. Omzet ratusan ribu dari penjualan berbagai jenis sayuran menurutnya dipastikan bisa dikantonginya.

Parjiati, sang istri menyebut memanfaatkan lahan terbatas untuk menanam genjer. Tumbuhan air yang tumbuh liar tersebut semula merupakan gulma di sawah. Penanaman genjer bahkan tidak memerlukan modal uang sepeserpun. Bibit genjer diperoleh dari petak sawah lalu dipindahkan pada satu lokasi agar mudah proses merawatnya.
“Genjer bisa dipanen pada pagi dan sore hari sesuai permintaan dari pemilik usaha kuliner,” cetus Parjiati.
Harga perikat genjer pada level petani hanya dihargai Rp1.000. Namun sekali panen ia bisa mendapatkan sekitar 100 ikat dan dalam sepekan ia bisa memasok sekitar 500 ikat ke pengepul.
Parjiati menyebut usaha budidaya sayuran bersama suami hanya sebagai sambilan. Sebab usaha pokok sebagai petani dengan menanam padi masih bisa dikerjakan dengan pembagian waktu. Budidaya sayuran berbagai jenis pada lahan terbatas menurutnya menjadi investasi harian dan mingguan. Sementara penanaman padi akan memberinya hasil setelah usia empat bulan.