Mobil Tamiya, Mainan Legendaris Tak Lekang Waktu

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Siapa yang tak mengenal tamiya, mainan berupa mobil mini 4 WD bertenaga baterai ini memang telah menjadi salah satu mainan legendaris yang begitu populer di kalangan anak-anak lelaki Indonesia, sejak era 80-90an. 

Meski telah dua dekade lebih, keberadaan mainan mobil asal Jepang ini ternyata masih eksis hingga sekarang. Penggemarnya pun tak lagi didominasi kalangan anak-anak saja, namun juga para lelaki dewasa bahkan hingga mereka yang telah menginjak usia paruh baya.

Salah seorang penghobi tamiya, Hastomo (kaos hitam) asal Sonopakis Ngestiharjo Kasihan Bantul, Selasa (04/02/2020). -Foto: Jatmika H Kusmargana

Mengenal tamiya sejak umur 10 tahun, salah seorang penghobi tamiya, Hastomo (32) asal Sonopakis Ngestiharjo Kasihan Bantul, mengaku masih aktif bermain tamiya hingga saat ini. Selain mengoleksi sejumlah tamiya ia juga aktif mengikuti berbagai ajang lomba/turnamen balap tamiya.

Para penghobi tamiya seperti Hastomo biasanya memiliki komunitas pecinta tamiya. Para anggotanya mayoritas merupakan lelaki dewasa. Baik itu mahasiswa, pegawai, wiraswasta hingga pensiunan. Hampir tidak ada anak-anak masuk dalam komunitas pecinta tamiya ini.

“Mayoritas penggemar tamiya sekarang itu justru orang dewasa. Kebanyakan mereka sudah mengenal dan mencintai Tamiya sejak masih anak-anak. Hobi itu kemudian berlanjut hingga mereka sudah dewasa,” katanya, Selasa (04/02/2020).

Selain bernostalgia dengan mainan semasa kecil, para pecinta tamiya ini mengaku memilih menekuni hobi ini dengan tujuan untuk melestarikan keberadaan tamiya itu sendiri. Mereka tak ingin keberadaan mainan tamiya yang begitu mereka cintai lenyap begitu saja.

“Saya sendiri memiliki sekitar 20 buah mobil tamiya. Selain dikoleksi, sejumlah tamiya itu juga saya pakai untuk ikut balapan (kompetisi) bersama anggota komunitas pecinta tamiya lainnya,” kata PNS bertubuh kurus ini.

Pernah beberapa kali memenangi ajang kompetisi balap tamiya, Hastomo mengaku biasa menghabiskan uang ratusan ribu untuk membiayai sparepart mobil mainan tamiya miliknya. Itu belum termasuk biaya lain untuk membeli alat kelengkapan lainnya.

“Kalau untuk ajang lomba, satu buah tamiya minimal butuh dana Rp750ribu. Itu untuk membeli sparepart seperti dinamo, baterai, velg, ban, dan sabagainya. Kadang bisa lebih dari itu, karena untuk merk dan sparepart tertentu harganya berbeda. Satu buah ban saja ada yang sampai Rp100ribu, itu belum termasuk velg-nya,” katanya.

Sementara untuk koleksi, harga tamiya ternyata juga tak bisa dibilang murah. Seri-seri tamiya orisinal lawas yang telah tidak diproduksi biasanya memiliki harga yang sangat tinggi. Seri tamiya seperti Azente, Vanquise atau Momotaro misalnya bisa seharga Rp1,5 juta. Lalu ada seri Frisenby yang mencapai Rp2juta.

“Keasyikan bermain tamiya itu seperti balapan mobil sesungguhnya. Kita harus bisa menseting mobil sebaik-baiknya agar mampu melaju cepat di lintasan. Ada berbagai macam faktor mulai dari karakteristik trek, jenis mesin, gir, roda, arus listrik, dan sebagainya,” ungkapnya.

Selain mampu melatih ketelitian, ketelatenan dan kesabaran hobi tamiya dikatakan juga bisa menjadi ajang silaturahmi. Pasalnya dengan masuk dalam komunitas pecinta tamiya, setiap anggota akan bisa bertemu anggota lain dari berbagai macam latar belakang. Termasuk juga menjadikan hobi tamiya sebagai usaha/bisnis.

“Kalau saya sendiri lebih sebagai wahana hiburan. Melepaskan penat disela-sela kesibukan bekerja. Dengan bermain tamiya, kita bisa bebas mengekspresikan diri bersama teman-teman sehobi,” pungkasnya.

Lihat juga...