Banjir Paling Banyak Sebabkan Korban Meninggal

Editor: Koko Triarko

Kepala BNPB, Doni Monardo, memberikan materi terkait kejadian bencana saat peluncuran petabencana.id di Gedung BNPB, Selasa (11/2/2020). -Foto: M Hajoran

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mencatat lebih dari 400 bencana terjadi hingga minggu ke dua Februari 2020, atau per 10 Februari 2020, dengan bencana hidrometeorologi masih mendominasi hingga mengakibatkan korban meninggal dunia 94 orang dan 2 orang dinyatakan hilang. 

“Bencana hidrometeorologi  mendominasi kejadian bencana sepanjang awal 2020. Di antaranya banjir 171 kejadian, puting beliung 155, tanah longsor 98 dan gelombang pasang atau abrasi 2 kejadian. Dari sejumlah kejadian ini, banjir merupakan yang paling banyak mengakibatkan korban meninggal dunia, yaitu 86 orang, disusul tanah longsor 5 dan puting beliung 3 orang,” kata Kepala BNPB, Doni Monardo saat meluncurkan petabencana.id  di Gedung BNPB, Selasa (11/2/2020).

Menurut Doni, dari awal tahun hingga 10 Februari 2020, bencana banjir memberikan dampak paling besar dibandingkan bencana lain. Distribusi jenis kejadian bencana selain bencana hidrometeorologi, yaitu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 28 kejadian, dan gempa bumi 1 kejadian. Total jumlah kejadian bencana sepanjang awal tahun hingga minggu ke dua Februari 2020 berjumlah 455 kejadian.

“Selain berdampak pada korban jiwa, sejumlah kejadian bencana mengakibakan kerusakan infrastruktur, seperti tempat tinggal dan fasilitas lain. Seperti pendidikan, kesehatan, perkantoran dan jembatan. Jumlah total rumah rusak dengan kategori rusak berat (RB) mencapai 2.512 unit, rusak sedang (RS) 1,725 dan rusak ringan 6.707,” ujarnya.

Sedangkan kerusakan infrastruktur lain, sebut Doni, fasilitas pendidikan berjumlah 142, peribadatan 121, perkantoran 47 dan kesehatan 11. Dari total kerusakan ini, hanya 5 rumah dengan kategori rusak sedang disebabkan karena gempa bumi, sedangkan sisanya disebabkan bencana hidrometeorologi.

“Sebanyak 994.932 orang tercatat menderita dan mengungsi akibat bencana. Tiga wilayah provinsi dengan jumlah bencana tinggi, yaitu Jawa Tengah 119 kejadian, Jawa Barat 72 dan  Jawa Timur 69,” ungkapnya.

BMKG, lanjut Doni, merilis pada 8 Februari 2020, bahwa berdasarkan analisis spasial distribusi curah hujan, perkembangan musim hujan hingga akhir Januari 2020, 99 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan, sedangkan 1 persen wilayah masih mengalami musim kemarau.

“Beberapa wilayah yang sudah memasuki musim hujan meliputi Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Bali, NTB, sebagian NTT, Pulau Kalimantan, sebagian besar Sulawesi Utara, Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian besar Sulawesi Barat, sebagian besar Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua,” sebutnya.

BMKG juga merilis prakiraan curah hujan harian dengan intensitas sedang hingga lebat pada periode hingga 13 Februari 2020, berpotensi terjadi di wilayah Aceh, Kepulauan Riau, Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat dan Papua.

“Sehubungan dengan fenomena alam terkait iklim dan cuaca, masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan siap siaga terhadap potensi ancaman bahaya, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang maupun petir. Masyarakat dapat terus memantau informasi prakiraan cuaca maupun informasi kewaspadaan terkait cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG, BNPB dan BPBD,” jelasnya.

Lihat juga...