Ribuan WargaTerdampak Banjir di Jatiasih, Butuh Kasur dan Selimut

Editor: Makmun Hidayat

BEKASI — Camat Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, Mariana, menyebut ribuan warga terdampak banjir di wilayahnya membutuhkan bantuan kasur dan selimut. 

“Jumlah warga terdampak Banjir di Kecamatan Jatiasih mencapai 34.600 jiwa. Itu tersebar di lima kelurahan dari enam kelurahan di Kecamatan Jatiasih,” kata Mariana, kepada Cendana News di Gudang BNPT Jalan Pondok Gede Permai, Selasa (7/1/2020).

Diakuinya untuk keperluan logistik lainnya seperti makanan, alat pel, obat obatan dan lainnya sudah melimpah dibantu dari berbagai pihak instansi swasta atau sekolah dan perorangan.

Mariana, Camat Jatiasih, Kota Bekasi, saat menyambut kunjungan dari DPRD Jawa Barat, Selasa (7/1/2020). -Foto: M. Amin

Kecamatan Jatiasih, memiliki enam kelurahan dari jumlah tersebut hanya kelurahan Jatiasih yang tidak terdampak banjir dahsyat yang merendam rumah dan isinya tersebut. Namun terparah ada di Jatirasa komplek PGP.

Sesuai data disebutkan bahwa di komplek PGP ada tiga RW terdampak banjir dengan total jumlahnya mencapai 1364 KK, atau 5456 jiwa. Warga yang masih tinggal di pengungsian gudang BNPT terdata ada 73 jiwa.

Pantauan di posko pengungsian korban banjir di Gedung Kantor Logistik BNPB Jatiasih, Bekasi, nampak masih ramai warga.

Tokoh masyarakat PGP Dedi S, kepada Cendana News, mengatakan  banjir tahun ini terdahsyat dibanding tahun 2002 saat terjadi banjir nasional. Grafik debet air di PGP setiap tahun terus naik dan tidak pernah turun.

“Penyebabnya yang paling parah karena tanggul kurang kokoh dan debit air yang tinggi. Sehingga daerah yang tidak terdampak banjir tahun ini ikut terendam. Contoh wilayah depan BNPB ke arah Kemang IFI airnya bisa sepinggang,” ungkap Dedi.

Dedi S, mantan Ketua RW 10 komplek PGP dua periode dijumpai Cendana News, Selasa (7/1/2020). -Foto: M. Amin

Dia mengaku aneh, menghadapi banjir awal tahun ini sepertinya tidak ada persiapan dari berbagai tim. Hal tersebut dilihat dari berbagai bantuan dalam penanganan banjir yang namanya bantuan perahu biasanya ramai sekarang nihil.

Padahal saat terjadi banjir kondisi warga yang sangat membutuhkan untuk evakuasi dan ketakutan. ironis tidak ada yang namanya perahu meskipun ada itu hanya ada satu perahu sementara yang harus dievakuasi jumlahnya ratusan.

“Saya saja yang mau mengevakuasi anak saya, yang lagi hamil harus ngotot dulu. Hingga akhirnya saya sendiri yang membawa perahu dibantu teman dan tetangga,”tukasnya.

Menurutnya biasanya saat debit air Kali Bekasi mulai naik maka tim sudah bersiaga. Sehingga warga terdampak banjir yang membutuhkan bantuan petugas langsung sigap.

Dedi, menyebutkan bahwa warga PGP hingga saat ini masih dilanda keresahan khawatir banjir susulan. Karena ketika banjir melanda di malam pergantian tahun tersebut baru mulai turun hujan.

“Banjir ini baru permulaan memasuki musim hujan. Biasanya hujan bisa sampai bulan Mei. Wajar jika warga banyak frustasi dan sudah minta pindah,”ujarnya.

Dia berharap kepada pemerintah baik Pemkot Bekasi, provinsi dan pusat bisa mengantisipasi dengan segera. Karena banjir di wilayah PGP merupakan banjir rutin.

Lihat juga...