Papeda Telur, Kuliner Khas Papua di Bekasi 

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Papeda merupakan salah satu kuliner warisan tanah Papua, yang biasa disantap bersama ikan tongkol, gabus, bubara hingga ikan dimasak kuah kuning atau dimakan dengan sayur ganemo, yang terbuat dari daun melinjo dan bunga pepaya tumis.

Tapi di Bekasi, bahan baku Papeda dikreasikan dengan menggunakan telur puyuh dicampur bubuk cabai dan bumbu abon barbeque, sehingga rasanya akan terasa ada ikannya. Untuk campuran tergantung selera, bisa juga abon sapi atau lainnya.

“Bahan Papeda aslinya dari sagu tetap ada, tetapi dikreasikan menggunakan bahan baku telur puyuh sebagai perekat,” ungkap Syaputra, penjual Papeda Gulung di kompleks Bekasi Jaya, Kota Bekasi, Sabtu (18/1/2020).

Syaputra, pedagang Papeda Telur Gulung khas Papua di Bekasi, Sabtu (18/1/2020). –Foto: M Amin

Syaputra mengaku mengetahui  teknik Papeda, karena pernah ikut orang Ambon saat berjualan di Jakarta, wilayah Pasar Minggu. Papeda yang dibuatnya menggunakan bahan baku yang simpel.

Dikatakan, Papeda juga dikenal di Maluku, terutama di kalangan orang Ambon yang juga mengolah panganan dari bahan baku sagu mirip dengan Papeda.

Syaputra mengaku mengembangkan Papeda lebih banyak mengadopsi dari orang Ambon.

Syaputra membuat merk sendiri untuk Papeda yang diolahnya, dan dijual keliling ke berbagai sekolah di Kota Bekasi. Dia memberi merk Papeda Telur Maknyus, karena rasanya mirip dengan Papeda aslinya sudah bercampur abon ikan, cabe dan saos.

“Saya menjual Rp5.000 dapat tiga, sehari bisa menjual dua kilo telur puyuh. Satu tusuk Papeda, berarti satu telur puyuh yang dimasak bersamaan menggunakan mentega untuk direkatkan dalam stik,” paparnya.

Aslinya, Papeda dimakan menggunakan mangkok untuk sagunya dan memakannya menggunakan sumpit. Lalu, dicampur dengan lauk sesuai selera.

“Ibarat kita makan nasi saja. Makan Papeda juga bisa kenyang, karena ada sagunya. Maka, Papeda yang saya jual banyak diminati anak sekolah setingkat SMA atau orang dewasa banyak yang beli, karena bisa menahan lapar juga,” ucap Syaputra.

Sehari, Syaputra mengaku bisa mengantongi keuntungan Rp400 ribu, belum dipotong modal.

Lihat juga...