Getuk Singkong Khas Sunda, Manis Gula Merah
Editor: Koko Triarko
BANDUNG – Siapa yang tidak tahu getuk singkong? Kudapan tradisional nusantara ini tentu saja tidak asing lagi di telinga dan lidah masyarakat Indonesia. Biasanya, getuk banyak dijajakkan oleh para pedagang di pasar tradisional, atau pedagang yang berkeliling menggunakan gerobak pada pagi hari.
Meski sudah populer, ternyata belum banyak yang tahu getuk memiliki beragam varian, salah satunya getuk khas Sunda, yang diolah dengan gula merah cair dan tanpa kelapa parut.
Menurut Elis Jumartini (43), warga desa-kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, membuat getuk khas Sunda ini sangat mudah dan praktis.
“Kalau getuk ini tidak pakai pewarna seperti getuk yang sering kita lihat. Dia pakai pewarna alami saja, yaitu gula merah, jadi rasa manisnya itu betul-betul terasa,” ujar Elis kepada Cendana News, saat dihubungi, Sabtu (23/10/2021).

Adapun bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat getuk hanya sedikit, antara lain singkong, gula merah, dan garam. Untuk prosesnya, pertama kupas singkong dan cuci sampai bersih, kemudian potong kecil-kecil.
“Singkong yang sudah dipotong-potong terus direbus sampai empuk atau pulen rasanya. Kemudian angkat dan tiriskan beberapa menit,” tandas Elis.
Selanjutnya, singkong yang sudah direbus diulek atau ditumbuk hingga halus. Saat proses mengulek, campurkan gula merah yang sudah cair dan sedikit garam untuk menambah sensasi gurih.
“Tahap ini kita bikin adonannya. Kalau sudah betul-betul halus, masukkan ke dalam wadah, lalu diuleni menggunakan tangan hingga semua benar-benar tercampur sempurna dan berbentuk cetakan. Kalau sudah, adonan tersebut kemudian dikukus lagi hingga masak. Selesai, tinggal disajikan saja,” kata Elis.
Mengingat getuk khas Sunda ini sudah manis, menurut Saddam, anak dari Elis, untuk menikmati getuk akan lebih cocok jika ditemani dengan kopi hitam yang pahit.
“Jadi sudah terkenal memang getuk itu temannya ya kopi, itu pun yang pahit. Dijamin rasanya mantap, bisa bikin terus menerus ketagihan,” ujar Saddam.
Lebih lanjut, Saddam mengatakan getuk Sunda ini biasanya banyak dijumpai ketika momen lebaran Idulfitri, sebagai jamuan keluarga yang datang bersilaturahmi.
“Kalau di luar momen lebaran, jarang ada yang bikin getuk begini, tapi kalau pas lebaran, setiap kita ke rumah keluarga hampir pasti ada getuk. Kadang sampai bosan kita, karena getuk lagi, getuk lagi,” pungkas Saddam.