Siswa SD di Purwokerto Sulap Limbah Plastik Jadi Pohon Natal
Editor: Makmun Hidayat
PURWOKERTO – Merayakan Natal sekaligus mengajarkan anak-anak untuk menyayangi bumi menjadi misi Sekolah Dasar (SD) Karitas Purwokerto dalam perayaan Natal tahun ini. Sekolah ini mengajak para siswa serta orangtua siswa untuk bersama-sama membuat pohon Natal dari limbah plastik.

Hasilnya, pohon Natal setinggi 8.6 meter dengan diameter 4 meter berdiri menjulang di lapangan sekolah. Selama satu minggu terakhir, mereka bergotong-royong membuat pohon Natal tersebut. Ada yang merangkai limbah-limbah plastik dan ada yang bertugas memasang di kerangka pohon.
“Di ajaran Katolik, ada masa adven, yaitu ajaran untuk menyelamatkan bumi, sehingga dalam rangka menyambut perayaan Natal ini, kami mengajak anak-anak dan orang tua siswa untuk menyelamatkan bumi dari limbah plastik,” kata Kepala SD Karitas, Maryatun, Selasa (17/12/2019).
Sampah plastik sudah mulai dikumpulkan sejak tiga minggu lalu. Siswa tidak ditarget untuk mengumpulkan dalam jumlah tertentu, hanya disarankan sebanyak-banyaknya, karena semakin banyak sampah plastik dikumpulkan dan digunakan untuk hal-hal bermanfaat, maka semakin besar bumi ini terselamatkan dari limbah plastik.
Ajakan dari pihak sekolah tersebut mendapat respon positif dari para siswa dan orang tua murid. Ada 92 siswa di sekolah tersebut yang aktif mengumpulkan sampah plastik, beserta para guru.
“Bahkan untuk TK Karitas yang satu lokasi dengan sekolah kami, juga ikut menyumbang sampah plastik,” tutur Maryatun.

Sampah plastik yang dikumpulkan bermacam-macam, mulai dari bungkus kopi, bungkus mie instan, permen dan aneka jajanan lainnya. Setiap jenis sampah plastik yang sama dirangkai dengan menggunakan benang dan setelah itu baru dipasang memutar di kerangka pohon Natal.
Salah satu siswa Brandon Steventy mengatakan, ia mendapat tugas dari guru untuk mengumpulkan sampah plastik. Sampah-sampah plastik tersebut dibersihkan terlebih dahulu, kemudian baru di bawa ke sekolah. Siswa kelas IV SD ini mengaku sama sekali tidak keberatan untuk mengumpulkan sampah plastik, sebaliknya ia justru merasa senang karena berarti sudah ikut menjaga bumi dari kerusakan akibat limbah plastik.
“Sampah plastik kalau dibuang sembarangan akan merusak bumi kita, jadi lebih baik dimanfaatkan menjadi kerajinan tangan dan pohon Natal,” kata Brandon.
Sementara itu, setelah dibongkar nanti, menurut Maryatun, limbah plastik akan dimanfaatkan menjadi ecobrick, yaitu dibuat bangku untuk dipajang di depan kelas. Dan untuk bambu kerangka pohon Natal, akan dimanfaatkan untuk membuat greenhouse, sebagai tempat praktik untuk mengajarkan anak-anak bercocok tanam.
“Jadi tidak ada yang menjadi sampah dan terbuang, semua kita manfaatkan,” pungkasnya.