Musim Hujan Mundur Petani Lamsel Tanam Komoditas Alternatif
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Mundurnya musim hujan sesuai prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berimbas pada petani. Semula curah hujan diprediksi akan turun merata pada bulan Desember 2019 namun mundur pada bulan Februari hingga Maret 2020.
Nurmaidi, petani di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel) menyebut ia sudah mulai melakukan pengolahan lahan dengan mesin traktor.
Rencana penanaman jagung pada lahan seluas satu hektare menurut Nurmaidi diurungkan. Pasalnya hujan yang belum merata akan berisiko pada benih yang akan ditanam. Sebagai solusi tetap memanfaatkan lahan, ia memilih menyiapkan lahan untuk menanam kedelai.
Pemilihan kedelai sebagai komoditas alternatif karena kedelai lebih toleran terhadap kondisi cuaca panas.
Penanaman kedelai menurut Nurmaidi menjadi alternatif agar lahan miliknya masih tetap menghasilkan. Ia menyebut memastikan akan mengalami kerugian jika tetap memaksakan menanam jagung.
Sebab sebagian petani yang sudah terlanjur menanam jagung harus kecewa karena lahan masih kering. Meski sempat hujan selama dua hari, musim kemarau masih akan berlanjut berdampak pada aktivitas pertanian.
“Lahan sudah terlanjur diolah jika tidak segera ditanami justru akan menjadi tempat tumbuh rumput sehingga tanaman toleran kondisi kekeringan jenis kacang kedelai, kacang tunggak dan kacang hijau bisa menjadi solusi karena musim penghujan mundur,” ungkap Nurmaidi saat ditemui Cendana News, Minggu (1/12/2019).
Jenis tanaman toleran cuaca kering yang akan ditanam oleh Nurmaidi merupakan kedelai varietas Tanggamus. Sebagai varietas asli Lampung berasal dari Gunung Tanggamus, kedelai toleran panas bisa dipanen usia 89 hari.
Masa menunggu puncak musim penghujan yang mundur menurut Nurmaidi disiasati memakai sumur bor. Meski debit air sumur bor minim, untuk pengairan lahan kedelai masih bisa mencukupi.
Sistem penyiraman kocor dan tetes menurut Nurmaidi akan diterapkan. Sebab sejumlah petani yang sudah terlanjur menanam jagung kembali kering setelah memasuki usia 10 hari usai bertunas.
Penanaman kedelai dengan sistem kocor menurutnya akan diterapkan dengan mencampurkan pupuk saat proses penyiraman. Cara tersebut dilakukan menghemat penggunaan air untuk menanam kedelai.
“Hujan sempat turun namun selanjutnya panas lagi, tanaman kedelai akan tetap tumbuh jika disiram sistem kocor,” beber Nurmaidi.
Petani lain bernama Radio di Desa Pasuruan memilih menanam kacang hijau. Akibat kemarau dengan pasokan air kurang dan musim hujan yang mundur membuat ia menanam kacang hijau.

Ia menanam kacang hijau sesuai dengan perhitungan mongso (waktu) masa tanam ketiga (Ketigo/MT3) dengan tanaman yang butuh air terbatas. Kacang hijau yang bisa dipanen usia 75 hari membuat ia bisa mendapatkan hasil saat kemarau.
“Sepekan lagi sudah bisa dipanen, namun karena musim penghujan mundur dari prediksi penanaman kedelai akan saya lanjutkan,” tutur Radio.
Radio mengaku masih bisa menanam kacang hijau karena memiliki lahan di dekat sumber air. Memanfaatkan mesin pompa penyiraman pada tanaman dilakukan dengan sistem pembuatan parit.
Kurangnya pasokan air dengan sistem pemilihan tanaman alternatif tanpa tergantung air menjadi solusi baginya tetap menghasilkan. Sebab jika ia memaksakan menanam komoditas yang harus memakai air dipastikan akan mengalami kegagalan.
Petani lain bernama Warsiman menyebut masih memanfaatkan saluran irigasi. Meski sempat hujan selama dua hari ia menyebut sebagian air di petak sawah miliknya kembali kering.

Usai melakukan pengolahan lahan ia berencana akan menanam kacang kedelai dan kacang hijau pada lahan sawah miliknya. Sebab mundurnya musim penghujan akan merugikan bagi petani.
“Sesuai dengan pengalaman musim tanam sebelumnya sumur bor tidak mencukupi untuk kebutuhan sawah, jadi bagus untuk menanam palawija,” beber Warsiman.
Palawija yang ditanam pada lahan sawah menurut Warsiman memiliki daya tahan pada lahan kurang air. Usai pengolahan lahan sawah ia berencana akan membuat sejumlah guludan.
Guludan yang dibuat untuk penanaman kacang kedelai dan kacang hijau sementara diberi tutup jerami. Sebab jerami berfungsi sebagai pupuk dan penutup tanah agar tetap lembab.
Saat musim hujan mundur hingga bulan Februari hingga Maret, Warsiman mengaku masih bisa memiliki satu kali musim tanam palawija. Selain melakukan penanaman kedelai dan kacang hijau, Warsiman berencana akan menanam berbagai jenis tanaman sayuran.
Berbagai jenis sayuran bisa dipanen sehingga ia bisa memanfaatkan waktu sembari menunggu musim penghujan.