Kemarau Pengaruhi Usaha Perikanan Air Tawar dan Kuliner
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Kemarau panjang ikut mempengaruhi sektor usaha perikanan air tawar di Lampung Selatan (Lamsel).
Trubus, pemilik usaha budidaya ikan air tawar jenis lele mutiara di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan terpaksa mengeringkan sejumlah kolam. Pasokan air yang minim membuat ia sementara berhenti membudidayakan ikan lele.
Prospek bisnis ikan lele mutiara disebutnya sangat terbuka karena banyaknya usaha kuliner di tepi Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum).
Meski demikian selama kemarau ia tidak bisa memenuhi permintaan sejumlah usaha kuliner akibat produksi menurun. Stok ikan lele yang telah disortir sebagian akan dipergunakan untuk pemenuhan kebutuhan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020. Sebagian ikan lele dipersiapkan sebagai indukan untuk bibit.
Keringnya sejumlah kolam tanah selama kemarau membuat ia memilih memakai kolam terpal. Pasokan air dari sumur gali masih bisa dipergunakan untuk budidaya ikan lele pada dua petak kolam terpal yang dimiliki.
Selain dirinya sejumlah pemilik usaha budidaya ikan air tawar menurutnya ikut terimbas selama kemarau. Sebab para pemilik usaha pembenihan ikan tidak beroperasi.
“Perputaran bisnis usaha ikan air tawar terkendala benih, imbasnya pembesaran juga terganggu faktor pasokan air yang kurang dan konsumen dari usaha kuliner yang memerlukan ikan air tawar mulai sulit mendapatkan bahan baku,” terang Trubus saat ditemui Cendana News, Selasa (3/12/2019).
Trubus mencari solusi untuk penyediaan benih dengan menyortir lele mutiara yang super. Ukuran besar jenis jantan dan betina hasil pemilihan dari sejumlah kolam yang akan kering dipilih jadi indukan.
Solusi tersebut dilakukan agar ia bisa mendapatkan indukan dan menghasilkan benih tanpa harus membeli ke pembenih ikan. Selama ini ia harus mencari benih ikan lele hingga ke wilayah Pekalongan Lampung Timur.
Penyiapan indukan untuk benih menurut Trubus menjadi persiapan baginya saat musim penghujan. Sebab sesuai prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) musim penghujan mundur hingga bulan Februari.
Persiapan indukan untuk benih disebutnya sebagian dalam tahap bertelur dan siap memijah. Masa pemijahan sekaligus menjadi waktu baginya mengeringkan sejumlah kolam agar bisa digunakan saat penghujan.
“Kolam yang kering sebagian diberi pupuk kandang agar menumbuhkan plankton untuk pakan alami saat penghujan tiba,” cetus Trubus.
Pemilik usaha budidaya ikan tawar jenis nila, gurame lain bernama Gito juga mengakui dampak kemarau. Sektor usaha perikanan air tawar menurutnya ikut terkendala oleh pasokan air.

Memiliki sebanyak lima petak kolam tanah, Gito mengaku hanya mengoperasikan sebanyak satu petak kolam. Tiga petak kolam sengaja dibiarkan kering selama kemarau menunggu penghujan.
“Ikan nila dan gurame siap panen mulai dipindahkan ke kolam yang masih memiliki air cukup, sebagian dijadikan indukan,” beber Gito.
Permintaan akan ikan nila dan gurame menurutnya meningkat jelang Natal dan Tahun Baru. Tahun sebelumnya ia bisa menyediakan sebanyak 1 ton ikan nila dan gurame untuk pembudidaya ikan lain.
Permintaan kerap terjadi pada awal November sebab pada bulan Desember konsumen akan membeli dalam jumlah banyak. Tren konsumsi ikan air tawar untuk kegiatan makan bersama menjadikan bisnis ikan tawar masih menjadi usaha menjanjikan.
Gito menyebut sebagian pemilik usaha ikan air tawar memilih membeli ikan ukuran di bawah 1 ons. Sebab pembesaran dalam waktu satu bulan bisa menambah berat ikan.
Di tingkat pembudidaya jenis ikan nila dijual seharga Rp20.000 selama kemarau melonjak menjadi Rp23.000 per kilogram. Jenis ikan gurame semula dijual Rp45.000 naik menjadi Rp65.000 per kilogram.
“Kenaikan imbas penanganan kolam sebagian dilakukan memakai mesin pompa sehingga operasional membengkak,” tutur Gito.
Pembudidaya ikan jenis lele mutiara untuk pasokan ke sejumlah usaha kuliner bernama Wagimin mengakui sulitnya pasokan ikan. Pemilik empat petak kolam ikan lele mutiara di Desa Kelaten itu menyebut rata-rata sepekan ia memasok sebanyak 100 kilogram ikan lele.

Pasokan ke usaha warung makan, pecel lele menggunakan lele usia 75 hari dengan jumlah per kilogram 10 ekor.
“Selama kemarau cukup menurun produksi sehingga saya hanya sanggup memasok sekitar 50 kilogram per pekan,” papar Wagimin.
Ia bahkan memilih menaikkan harga ikan lele dari semula Rp22.000 menjadi Rp24.000 per kilogram. Sulitnya memperoleh benih ikan, pasokan air yang harus diperoleh dengan sistem mesin pompa membuat biaya budidaya semakin tinggi.
Ia bahkan memilih menahan untuk menjual ikan sebelum Natal dan Tahun Baru. Sebab permintaan pada perayaan Natal dan Tahun Baru pada ikan air tawar cukup tinggi.
Pasokan ikan air tawar untuk usaha kuliner menurut Wagimin dibagi dalam dua kategori. Kategori kebutuhan untuk pecel lele rata-rata lele berukuran 10 ekor per kilogram. Sebaliknya untuk usaha rumah makan rata-rata 6 ekor per kilogram.
Sejumlah pemilik usaha kuliner yang semula membeli 10 kilogram ikan lele diakuinya mulai berkurang hanya 5 kilogram per hari. Stok ikan lele menurutnya akan kembali normal saat penghujan tiba.