Hasil Positif dari Evaluasi Kerja Sama KKP dan FAO

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Menjelang berakhirnya proyek kerjasama Supporting Local Feed Self-Sufficiency for Inland Aquaculture in Indonesia TCP/INS/3606, pada akhir 2019 ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan hasil evaluasi proyek menunjukkan efek positif.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Dr. Slamet Soebjakto, memaparkan bahwa proyek ini memiliki tujuan untuk meningkatkan produksi pakan ikan, khususnya ikan air tawar yang berkualitas tinggi dengan biaya murah.

“Wilayah area proyek adalah di Sumatera Selatan. Sistemnya adalah dengan menggunakan formulasi pakan tepat, manajemen pemberian pakan yang efektif dan efisien yang targetnya untuk mengurangi ketergantungan bahan baku impor,” kata Slamet saat acara Terminal Workshop TCP di Sari Pacific Jakarta, Kamis (19/12/2019).

Ia menyatakan bahwa dari uji lapangan penggunaan pakan mandiri dengan menggunakan formula FAO pada enam kelompok di Kota Palembang dan Kabupaten Banyuasin diperoleh hasil bahwa penggunaan pakan ini memiliki respon yang baik terhadap pertumbuhan ikan dan FCR yang lebih rendah dibanding formula pakan yang dibuat kelompok sendiri.

“Pakan formula FAO ini memiliki FCR lebih rendah yaitu sekitar 2, harga lebih murah pada kisaran Rp. 4.725 per kg dan kandungan protein lebih tinggi mencapai 25 persen jika dibandingkan dengan pakan yang sebelumnya,” ujarnya.

Salah satu contoh yang bisa dilihat langsung adalah perbaikan kualitas daging patin.

“Patin ini kan bukan hanya untuk kebutuhan pangan domestik, yaitu untuk pemenuhan gizi. Tapi juga untuk ekspor. Nah persyaratan ekspor ini, salah satunya daging ikan patinnya haruslah putih. Dengan pakan FAO ini, daging patinnya menjadi putih secara alami. Tanpa harus pakai pemutih,” papar Slamet.

Dengan hasil positif ini, ia mengharapkan agar proyek ini bisa dilanjutkan.

“Bukan hanya penambahan anggaran untuk masalah pakan ini tahun depan, tapi juga akan dilakukan program sosialisasi, agar pembudidaya bisa mendapatkan pakan berkualitas dan berharga murah dibandingkan pakan buatan,” tandasnya.

Assistant FAO Representative Indonesia, Dr. Ageng Heriyanto, mengapresiasi upaya pemerintah Indonesia yang berfokus pada pengembangan pangan dalam mendukung budidaya perikanan.

“Dalam penguatan kapasitas pangan mandiri untuk memperkuat peranan ekonomi dari budidaya perikanan, ada dua hal yang perlu dilakukan,” ucapnya.

Yang pertama adalah memperkuat pelaku usaha dan aspek usaha terkait.

“Aspek usaha ini adalah pakan dan benih. Dimana pakan bisa mengambil 70-80 persen dari cost production. Di sini harus didorong inovasi dan pengembangan teknologi sehingga bisa mendapatkan pakan dengan kualitas tinggi tapi harganya lebih rendah dibandingkan pakan buatan,” urai Ageng.

Yang kedua, menurutnya adalah regulasi, yang akan menjadi dasar bagi para pembudidaya untuk mengembangkan usahanya dengan baik.

Lihat juga...