Guru SDN Matawai Iwi di Sumba Timur Swadaya Bangun Mes Guru

Editor: Koko Triarko

WAINGAPU – Selain kekurangan fasilitas MCK, para guru di SDN Matawai Iwi, Desa Kombapari, Kecamatan Katala Hamu Lingu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) juga masih kekurangan rumah guru. Dua guru yang masing-masing sudah berkeluarga, pun terpaksa harus tinggal serumah.

Salomi Yaku Danga, Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) Matawai Iwi, mengatakan, rumah guru yang ada saat ini hanya lima unit dan sudah terpakai semua, termasuk rumah untuk kepala sekolah, sehingga masih kekurangan dua rumah guru lagi.

“Kami mencoba membangun rumah guru darurat secara swadaya bersama dengan orang tua murid. Kami pergunakan seng dan kayu bekas sisa rehab bangunan sekolah,” terangnya, Jumat (13/12/2019).

Astini Wolu Praing, Guru Kelas V yang merupakan guru honor di SDN Matawai Iwi, saat ditemui di sekolah itu, Jumat (13/12/2019). -Foto: Ebed de Rosary

Selama tidak ada rumah guru, kata Salomi, dua guru lainnya tinggal bersama dengan guru lainnya sambil menunggu pembangunan rumah guru.

Dirinya sudah mengajukan kepada Dinas Pendidikan Sumba Timur, agar segera menambah mes guru, namun belum terealisasi, sehingga terpaksa membangun secara swadaya.

“Kasihan kalau mereka para guru harus tinggal bersama, apalagi ada yang sudah menikah, sehingga mau tidak mau kami harus bangun sendiri agar mereka bisa tinggal, meskipun sederhana,” sebutnya.

Sementara itu Astini Wolu Praing, guru kelas V dan merupakan guru honor di sekolah ini mengaku, selain kesulitan air bersih dan rumah guru, sekolah mereka juga sangat kesulitan sinyal telepon genggam.

“Semua telepon genggam diletakkan di depan ruang kepala sekolah dan ruang tamu di atas sebuah kursi. Hanya di tempat itu sinyal telepon genggam bisa diterima,” ujarnya.

Pihaknya pun sangat kesulitan mengakses informasi untuk memperdalam pengetahuan mengenai kegiatan belajar mengajar di internet, sebab tidak ada sinyal.

Telepon genggam milik guru dan tenaga administrasi diletakkan di depan ruang guru dan ruang tamu, agar bisa menangkap sinyal, Jumat (13/12/2019). -Foto: Ebed de Rosary

“Kalau mau kirim data soal sekolah ke pusat, kami harus ke kota Waingapu terlebih dahulu agar bisa mendapatkan sinyal telepon dan bisa membuka internet,” tuturnya.

Selain itu, tambah Astini, pihaknya juga kekurangan ruang guru, sehingga satu ruangan disekat menjadi ruang tamu dan ruang guru dan ruang kepala sekolah, sehingga terasa sempit.

“Kalau bisa sekolah kami juga dibangun ruang guru, agar tidak gabung dengan ruang tamu dan ruang kepala sekolah,” harapnya.

Lihat juga...