Seni Lukis di Kuta Diminati Wisatawan Asing

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BADUNG – Selain terkenal dengan pantainya yang bagus, Kuta juga dijuluki sebagai sentra oleh-oleh bagi wisatawan.

Selain produk fashion, lukisan dapat dengan mudah kita jumpai ketika berkunjung ke kampung bule ini. Banyak ditemukan art shop yang juga terdapat di lorong-lorong kecil yang menjual hasil lukisan.

Suryadi salah satunya, pemuda asal Banyuwangi sejak tahun 1999 sudah menekuni profesi sebagai pelukis di kampung turis Kuta Badung.

Suryadi, pedagang sekaligus seniman lukis yang ada di sentra produk kerajinan tangan di Kuta, Sabtu (23/11/2019) – Foto: Sultan Anshori.

Tak hanya itu, Suryadi juga sebagai seniman yang menghasilkan beberapa karya. Dia menyewa ruko kecil yang berada di kawasan objek wisata pantai Kuta. Karena dekat pantai, maka tak jarang rukonya ini sering dikunjungi oleh wisatawan mancanegara.

Dia menceritakan, sebelum terjun sebagai pelukis dia mengakui dulu sebagai penjual art shop kap lampu yang terbuat dari rotan serta sebagai penjual beberapa produk kerajinan lainnya di Bali.

Namun semenjak tahun 2004 dia memilih fokus menekuni dunia seni ini. Sejak saat itu hingga saat ini sudah ribuan seni lukis yang dia ciptakan.

“Kebetulan udah lama saya menekuni usaha ini, Mas,” ujarnya saat ditemui, Sabtu (23/11/2019).

Dikatakan, sudah ribuan lukisan mulai dari realis, surealis, impresionis dan abstrak hingga kontemporer dibuat dengan segala teknik lukisan.

Baik dengan teknik menggunakan kuas, airbrush ataupun dengan teknik palet. Tentunya dengan hasil yang sangat menakjubkan. Sementara untuk alat lukisan menggunakan akrilik, oil, dan bermacam lainnya.

Untuk ukuran lukisannya sendiri dia buat mulai dari ukuran terkecil yaitu 10R hingga tiga meter. Dari harga Rp400 hingga Rp7,5 juta dengan ukuran terbesar tiga meter.

Dikatakan, hampir 99% persen dipesan  wisatawan asal Australia, Jerman, Prancis dan Belanda. Namun lebih didominasi oleh Australia.

“Australia cenderung memesan didasarkan oleh musim yang terjadi di negaranya. Misalnya musim dunia fashion kebanyakan tamu akan memesan lukisan dengan karakter fashion. Berbeda dengan tamu Eropa, kebanyakan dari mereka memesan lukisan berkarakter abstrak dan kontemporer. Juga menerima order lukisan dari tamu, misalnya melukis foto maupun pemandangan,” imbuhnya.

Dia menambahkan, untuk bisa mengerjakan satu buah lukisan diperlukan waktu rata-rata tiga hingga empat hari. Misalnya, lukisan dengan ukuran 100×120 centimeter dia kerjakan selama kurang lebih dua hingga tiga hari. Tergantung  motif yang dibuatnya.

Dia menegaskan, suka duka menjadi pelukis ini ketika sepi orderan. Akibat sepinya tamu yang berlibur ke Bali. Diakuinya, selain mengerjakan sendiri, dia juga menjalin kerjasama dengan pelukis lain yang ada di Bali.

Sementara sisi sukanya bisa menularkan bakat seni melukisnya serta membuat lapangan pekerjaan bagi para rekan seprofesi.

Rata-rata jika kondisi ramai dirinya bisa menerima pesanan lukisan sebanyak 30 buah setiap harinya. Namun jika kondisinya sepi seperti saat ini, dia hanya mampu melayani pesanan sebanyak tiga hingga empat buah lukisan.

“Dengan kondisi wisatawan yang menurun ke Bali juga berpengaruh terhadap omzet penjualan lukisan miliknya. Dikatakan, hampir 70% omzetnya menurun. Namun, untung saja hal ini masih dibantu oleh pesanan dari pelanggan lama yang mana mereka langsung order dari negara asalnya melalui email maupun alat komunikasi lainnya. Nantinya kita buat sesuai orderan tersebut lalu kita kirim via paket ke luar negeri,” tandasnya.

Salah seorang wisatawan asal Australia, Andre Stuart, mengakui senang membeli lukisan dari karya Suryadi. Dikatakan, dirinya sering memesan lukisan abstrak karena menurutnya memiliki nilai seni yang tinggi. Selain itu, tak jarang pula ia memesan lukisan bertema karakter foto keluarga.

“Sering beli lukisan di sini jika sedang berlibur di Bali,” tutupnya.

Lihat juga...