Pendekatan Siklus Hidup Tangkal ‘Stunting’ dan Gizi Buruk

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Masalah stunting dan gizi buruk adalah masalah kompleks yang melibatkan siklus hidup manusia. Sehingga penanganannya tidak hanya pada makanan saja tapi juga interaksi intens dari semua pihak. Dan pencegahan harus dilakukan secara kontinyu di setiap tahapan hidup manusia, terutama perempuan.

Pakar tumbuh kembang, Prof. DR. dr. Soedjatmiko, SpA(K), M.Si, menyatakan, data Riskesdas 2013 dan 2018 menunjukkan masalah stunting dan gizi buruk masih menjadi masalah besar di Indonesia. Dan membutuhkan keterlibatan semua pihak dalam menanganinya.

“Kalau kita bicara gizi buruk pada anak, kita harus melihat pada ibunya. Kalau saat ibu hamil sudah gizi kronis, bayinya akan gizi buruk. Selanjutnya akan menjadi stunting,” kata Soedjatmiko saat diskusi tentang stunting dan gizi buruk di Hotel 88 Tendean Jakarta, Jumat (1/11/2019).

Ia menyebutkan gizi kronis pada ibu, didorong oleh kondisi anemia pada saat remaja.

“Kalau saat remaja sudah anemia, lalu tidak mau makan tablet zat besi dengan alasan amis atau alasan lainnya, maka saat menikah dan program anak, akan terbawa kondisi ini,” ujarnya.

Siklus hidup yang dimaksud adalah lingkaran usia produktif, ibu hamil, bayi baru lahir, balita, usia sekolah, remaja dan kembali lagi ke usia produktif.

“Jika ada dalam salah satu tahapan ini yang mengalami gangguan, maka masalahnya akan terus berputar seperti lingkaran setan. Inilah yang harus diputus,” ucap Soedjatmiko tegas.

Untuk memutuskan lingkaran ini dan juga sebagai upaya pemerintah dalam mencegah dan menghilangkan masalah stunting dan gizi buruk, Kementerian Kesehatan melakukan pendekatan siklus hidup.

“Kita melakukan pendekatan pada setiap tahapan siklus. Untuk ibu hamil, kita siapkan program ANC berkualitas – 10T, pemberian tablet Fe dan asam folat, konseling gizi, penggunaan buku KIA, deteksi dini kelainan bawaan dan vitamin A bagi ibu nifas,” kata Kasie Konsumsi Gizi Khusus, Direktorat Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan, dr. Ivonne Kusumaningtias, MKM.

Pada tahapan bayi baru lahir, dilakukan pelayanan neonatal esensial, IMD dan ASI eksklusif, imunisasi, skrinning hipotiroid kongenital dan surveilans kelainan bawaan.

“Tahapan selanjutnya, yaitu Balita, kita masih melanjutkan penggunaan buku KIA sebagai panduan tumbuh kembang, MTBS dan SDIDTK, PMBA, Tata Laksana Balita Gizi Buruk jika dibutuhkan, suplementasi vitamin A dan pemenuhan ASI 2 tahun,” ujarnya lebih lanjut.

Usia sekolah pun, menurut Ivonne, tidak boleh terlepas dari pantauan. Akan ada penjaringan kesehatan dan pemeriksaan berkala, pencatatan informasi dengan Buku Rapor Kesehatan Ku, imunisasi MR dan edukasi gizi seimbang.

“Saat tahapan remaja, kita akan mengarahkan mereka untuk mengikuti Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR), tablet Fe dan asam folat juga diberikan untuk mencegah anemia, peningkatan gizi dan edukasi kespro,” tutur Ivonne.

Memasuki tahapan usia reproduksi, konseling gizi seimbang akan dilanjutkan. Dan ditambah dengan konseling Catin. Pada masa ini juga diberikan imunisasi tetanus, mendorong untuk mengkonsumsi Fe dan asam folat secara mandiri serta pelaksanaan GP2SP.

“Dari uraian tahapan itu terlihat bahwa, tata laksana ini melibatkan semua pihak. Ada bidang pendidikan, ada tenaga kesehatan daerah dan pusat, NGO untuk membantu sosialisasi. Jadi bukan hanya kemenkes saja,” kata Ivonne.

Dengan dilakukan pendekatan siklus hidup untuk memerangi gizi buruk dan stunting, baik Soedjatmiko maupun Ivonne mengharapkan agar target stunting di bawah angka 20 persen bisa tercapai. Dan tidak ada lagi kejadian gizi buruk.

Lihat juga...