Panen Buah Pinang Beri Hasil Tambahan Warga di Lamsel
Editor: Makmun Hidayat
LAMPUNG — Musim kemarau berimbas pasokan air berkurang tidak berpengaruh banyak bagi warga di kaki Gunung Rajabasa. Aliran air dari gunung di Lampung Selatan (Lamsel) tersebut dimanfaatkan petani untuk menanam komoditas kakao, kelapa, cengkih dan pinang.
Jarni, salah satu warga Desa Rawi Kecamatan Penengahan menyebut kemarau tidak mempengaruhi produksi buah pinang. Saat kemarau pemilik sekitar ratusan buah pinang tersebut masih bisa mendapatkan hasil tambahan dari pinang.
Tanaman dengan nama ilmiah arecha catechu tersebut oleh warga kaki Gunung Rajabasa disebut jebuk, jambe. Ditanam sebagai pembatas lahan pekarangan oleh sang suami, pohon pinang berbuah sepanjang musim.
Pada musim kemarau Jarni menyebut satu pohon pinang bisa menghasilkan sebanyak10 kilogram pinang basah. Jumlah tersebut diakuinya lebih sedikit dibandingkan musim penghujan mencapai 15 kilogram perpohon. Buah dengan kulit berwarna hijau tua hingga kuning bisa dipanen. Proses pemanenan dilakukan dengan galah yang diberi sabit.
“Tanaman pinang usia tiga tahun belajar berbuah dengan ketinggian sekitar empat meter,sebagian sudah mencapai sepuluh meter dengan buah yang matang akan rontok secara alami,” ungkap Jarni saat ditemui Cendana News, Senin (25/11/2019).

Jarni yang telah menanam pinang sejak puluhan tahun silam mengaku tanaman tersebut toleran panas. Meski kemarau melanda dengan pasokan air terbatas tanaman pinang masih menghasilkan.
Buah pinang yang sudah dipanen selanjutnya dikumpulkan untuk proses pengupasan. Permintaan buah pinang dominan berasal dari Provinsi Jambi untuk kebutuhan pabrik kosmetik dan keperluan zat warna untuk batik.
Pada masa kejayaan buah pinang sepuluh tahun silam,Jarni mengingat perkilogram pinang dijual Rp15.000. Harga tersebut berangsur turun akibat banyaknya petani menanam buah kaya manfaat tersebut.
Sebagai buah yang dipercaya menjaga stamina, buah kerap dipanen saat masih muda. Sebagai bahan minuman jus pinang banyak diminta sejumlah pemilik usaha minuman tradisional.
“Selain buah pinang muda banyak orang mencari akar untuk pengobatan alternatif, saat batang tua kerap dibeli untuk panjat pinang,” papar Jarni.

Kini meski buah pinang hanya mencapai Rp8.000 ia masih mendapatkan untung. Sebab memanen sebanyak 100 kilogram saja ia bisa mendapatkan hasil Rp800.000. Buah pinang yang sudah dikupas dan dijemur akan dikirim ke pengepul yang ada di kota Kalianda. Pengiriman buah pinang ke pabrik akan dilakukan saat kuota mencapai lebih dari 50 ton.
Petani lain Ahmad Naim, menyebut tanaman pinang memiliki manfaat yang banyak. Sebagai tanaman pagar pinang bisa menjadi penahan longsor saat musim penghujan. Menghasilkan buah saat memasuki usia tiga tahun pinang bisa menjadi sumber penghasilan bagi petani. Sebagai tanaman konservasi dan menghasilkan ekonomi, Ahmad Naim menyemai sekitar 1 ton buah pinang.
“Semaian buah pinang tidak tumbuh karena bertepatan dengan musim kemarau,sekarang dibongkar untuk dikupas,” papar Naim.
Buah pinang yang sudah disemai diakuinya tidak mudah membusuk. Meski sempat disemai buah bisa dimanfaatkan sehingga dikirim ke lokasi pengupasan.
Aminah dan Marni yang membantu proses pengupasan mendapat upah Rp1.500 perkilogram. Setelah dikupas buah pinang akan dijemur menghilangkan jamur yang menempel.
Prospek buah pinang yang menghasilkan secara ekonomi membuat Ahmad Naim membagikan bibit pinang untuk ditanam agar masyarakat mendapat hasil dari budidaya tanaman tersebut.