Indonesia Berpeluang Jadi Industri Mutiara Terbesar Dunia
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo, optimis Indonesia memiliki peluang jadi pusat industri mutiara terbesar dan nomor satu di dunia. Hal tersebut diakuinya dengan banyaknya kekayaan alam yang belum dikelola maksimal.
“Saya melihat sendiri banyak kekayaan alam kita yang belum kita optimalkan. Dulu Indonesia, yang namanya mutiara ini kita adalah rajanya di dunia,” kata Edhy saat hadir di hari ketiga gelaran Indonesia Pearl Festival (IPF) ke-8 Tahun 2019, Atrium Lippo Mall Kemang Jakarta Selatan, sebagaimana rilis yang diterima, Minggu (24/11/2019).
Dikatakan saat ini, Indonesia menempati posisi kelima dunia sebagai penghasil mutiara. Padahal laut Indonesia dengan jumlah pulaunya mencapai 17000, tetapi tentunya budi daya mutiara pasti berhubungan dengan pantai dan laut yang bersih.
Menurutnya, Sulawesi Utara adalah salah satu daerah strategis. Selain dekat dengan perbatasan laut utara juga punya daya tarik luar biasa. Sehingga jadi salah satu provinsi yang menjadi fokus pemerintahan saat ini untuk dikembangkan.
“Ada 10 destinasi wisata, salah satunya ada di Sulawesi Utara. Mudah-mudahan itu nanti yang akan mendorong industri mutiara kita di sana,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Edhy mengucapkan terima kasih kepada pelaku usaha budi daya dan perhiasan mutiara yang masih setia menekuni bisnis mutiara untuk menguatkan industri mutiara.
“Kami berkomitmen, KKP akan menjadi pembina, mitra yang mencari jalan keluar bagi solusi-solusi yang selama ini belum selesai. Kami akan membuka diri, kami juga terbuka menerima masukan supaya industri mutiara ini bisa berkembang,” tegasnya.
Sementara itu, Daniel Mawengkang, Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Utara, mengungkapkan, saat ini sektor pariwisata Sulawesi Utara tengah berkembang pesat.
Hal ini mengharuskan Sulawesi Utara mengikuti arus globalisasi yang menuntut adanya peningkatan baik infrastruktur objek maupun daya tarik termasuk sumber daya manusia sebagai subjek dinamisasi.
“Sebagai sektor yang bersifat multiplier effect, pariwisata diharuskan menjaga sinkronisasi kebijakan nasional serta globalisasi yang semakin kompetitif,” kata Daniel.
Melalui kegiatan sosialisasi pengembangan potensi destinasi pariwisata, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan inovasi untuk mengembangkan destinasi pariwisata, menjadi keunggulan daerah dan sumber devisa bagi negara.
Sementara, Direktur Jenderal PDSPKP, Agus Suherman, menyampaikan, IPF kali ini mengusung pesona mutiara laut selatan Indonesia (Indonesian South Sea Pearl) dari tiram pinctada maxima hasil alam maupun hasil bud idaya.
Ia menambahkan, sumber mutiara laut selatan ini tersebar di berbagai wilayah Indonesia di antaranya Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tengara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Sumatera Barat.
Selain itu, ia juga mengatakan gelaran IPF kali ini diikuti oleh 32 booth yang terdiri dari 21 booth pelaku usaha budi daya dan perhiasan, 1 booth Provinsi Sulut, tiga booth sponsor, dan tiga booth penunjang.