Hujan Belum Merata, Petani Penengahan Tanam Jagung
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Hujan yang mulai melanda sejumlah wilayah di Lampung Selatan (Lamsel) dimanfaatkan petani untuk menanam jagung.
Nurmaidi, salah satu petani jagung di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan, menyebut, ia memulai awal masa tanam dengan pengolahan lahan. Proses pengolahan traktor dilakukan untuk menggemburkan tanah sekaligus membuat alur tanam.
Nurmaidi menyebut, hujan yang mengguyur membuat lahan untuk menanam jagung mulai basah. Meski hujan belum merata keberadaan fasilitas sumur bor membuat ia bisa mengaliri lahan pertanian jagung.
Selama musim kemarau fasilitas sumur bor yang ada sengaja tidak digunakan akibat debit air yang mengecil. Saat musim tanam penghujan atau rendengan ia berharap debit air bisa lebih meningkat.
Pengolahan lahan menggunakan traktor diakui Nurmaidi mutlak dilakukan. Sebab selama hampir lima bulan kemarau melanda, lahan kembali padat.
Penggunaan traktor sekaligus memudahkan proses pencampuran zat kapur atau dolomit serta pupuk kandang yang ditebar pada lahan. Sebab pemberian dolomit dan pupuk bertujuan untuk menambah kesuburan pada lahan saat proses penanaman dimulai.
“Sepekan terakhir hujan mulai turun meski belum merata namun pengolahan lahan dilakukan agar tanah lebih gembur dan saat hujan mulai turun dengan intensitas lebih lebat penanaman jagung bisa dilakukan,” ungkap Nurmaidi saat ditemui Cendana News, Sabtu (23/11/2019).
Pada lahan seluas satu hektare Nurmaidi menyebut sudah digarap selama puluhan kali. Pada masa tanam sebelumnya ia menanam 4 kantong bibit atau sebanyak 20 kilogram jenis jagung hibrida.
Penanganan pemberian pupuk, pengairan cukup membuat ia bisa memanen sekitar 250 karung atau sekitar 9 ton jagung. Hasil panen tersebut diperoleh pada masa kemarau sementara saat penghujan dihasilkan 300 karung atau 10 ton jagung.
Salah satu anggota kelompok tani (Poktan) Sukamaju tersebut juga terbantu adanya fasilitas sumur bor. Saat pasokan air terbatas kala kemarau sejumlah petani bisa memanfaatkan sumur bor untuk pengairan lahan pertanian.
Namun memasuki awal tahun 2019 ia memilih tidak memanfaatkan sumur bor karena digunakan untuk kebutuhan mandi dan minum warga di sekitar sumur bor.
Petani jagung lain bernama Kendi memilih memulai menggolah lahan sepekan lalu. Setelah dibuat alur tanam (plantir) proses penanaman jagung dengan sistem tajuk dilakukan. Pada lahan setengah hektare ia menanam sebanyak 10 kilogram bibit jagung NK 77.

Pada masa tanam sebelumnya ia berhasil memperoleh sekitar 150 karung jagung dengan berat mencapai 5 kilogram.
“Hujan yang mulai turun membuat lahan bisa diolah memakai traktor untuk menggemburkan tanah sehingga penanaman jagung bisa dilakukan,” beber Kendi.
Saat intensitas hujan mulai meningkat ia memastikan akan membantu proses pertumbuhan jagung. Jagung hibrida yang ditanam pada akhir November disebutnya diprediksi bisa dipanen awal Maret tahun depan.
Prospek menanam jagung menurutnya sangat menjanjikan karena kebutuhan pakan ternak meningkat. Harga per kilogram jagung saat panen menurut Kendi mencapai Rp4.500 bahkan pernah mencapai Rp5.000 per kilogram.
Kendi menyebut mempercepat masa tanam jagung karena ia menggunakan bibit secara mandiri. Sebelumnya sejumlah petani anggota kelompok tani mendapat bantuan benih. Namun bantuan benih memiliki kualitas yang jelek sebagian tidak tumbuh.
Mengantisipasi kerugian petani memilih membeli bibit jagung bersertifikat yang terjamin kualitasnya.
Selain Kendi sejumlah petani lain yang memiliki lahan mulai menanam jagung sepekan sebelumnya. Meski hujan belum merata sebagian tanaman jagung mulai terlihat tumbuh.
Menambah pasokan air pada lahan penanaman jagung, sejumlah petani memanfaatkan sumur bor sembari menunggu hujan mulai merata di wilayah Lamsel.