Sastrawan Budi Darma: Jika tak Hati-hati, Indonesia Rentan Pecah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MALANG – Sastrawan sekaligus budayawan, Budi Darma, mengatakan, seluruh bangsa Indonesia jika tidak berhati-hati, maka Indonesia bisa sangat rentan untuk terjadi perpecahan dan kehilangan pulau terluar.

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan orasi budaya dalam rangkaian acara Dies Natalis Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB).

Usaha disintegrasi sudah beberapa kali terjadi, baik yang bersifat ideologis maupun kedaerahan. Usaha disintegrasi ideologis terjadi antara lain dalam pemberontakan PKI Madiun pada tahun 1948 dan G-30/S pada tahun 1965, serta pemberontakan Dl/Nll di berbagai wilayah Indonesia sejak tahun 1950-an sampai dengan akhir tahun 1960-an.

“PKI ingin mengganti Pancasila dengan komunisme, sedangkan Dl/Nll akan mengganti negara Pancasila menjadi negara Islam,” sebutnya di gedung UB TV, Jumat (25/10/2019).

Kemudian, usaha disintegrasi kedaerahan juga muncul dalam bentuk pemberontakan PRRI dan Permesta pada tahun 1950. Motif utama dari dua pemberontakan itu adalah ketidakpuasan daerah, yaitu sebagian kawasan Sumatra dan sebagian kawasan Sulawesi.

Karena menurut para pemberontak, sebagian besar harta dari kawasan-kawasan tersebut hanya dinikmati oleh Pemerintah Pusat.

Sementara itu, sinyalemen Samuel P. Huntington dalam buku The Clash of Civilizations juga pernah mengancam lndonesia. Dalam Clash of Civilizations ditengarai, adanya perbedaan peradaban dalam bentuk bangsa, suku bangsa, ras, agama, kepercayaan, dan primordialisme akan memecah beberapa negara besar menjadi beberapa negara kecil. Uni Sovyet, misalnya, yang runtuh menjadi 15 negara.

Imbas perpecahan beberapa negara itu nyaris akan merembet ke Indonesia. Konon kabarnya, pada waktu itu orang Aceh di luar negeri mengaku bukan orang Indonesia tapi orang Aceh, orang Riau mengaku sebagai orang Melayu, dan orang Papua juga mengaku sebagai sebagai orang Papua.

“Tapi beruntung, karena ke-lndonesiaan kita kuat, maka gejala disintegrasi itu tidak sampai benar-benar terjadi,” ungkapnya.

Selanjutnya, dalam aspek etnisitas, kalau seluruh bangsa indonesia tidak berhati-hati, Indonesia memang bisa rentan untuk pecah. Orang Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau, misalnya, adalah orang Melayu yang bahasa, agama, dan adat-istiadatnya sama dengan orang Melayu di Malaysia, khususnya di negeri johor.

Ada juga etnik Melanesia dan Mikronesia, yang kebudayaannya lebih dekat dengan orang Pasifik. lntimidasi dua negara Pasifik, yaitu Vanuatu dan Kepulauan Solomon agar Papua melepaskan diri dari lndonesia basisnya juga adalah etnisitas.

Sengketa antara Indonesia dan Malaysia mengenai pulau Sipidan dan Ligitan tidak lain merupakan sambungan sengketa antara Inggris dan Belanda ketika Belanda menguasai Hindia Belanda yang sekarang menjadi Indonesia dan Inggris menjadi penguasa kawasan yang sekarang menjadi negara Malaysia.

Dalam sidang di Mahkamah Internasional, Indonesia dinyatakan kalah, dan karena itu Pulau Sipadan dan Ligitan resmi menjadi milik Malaysia. Alasan Mahkamah Internasional karena Malaysia telah melakukan pembangunan di pulau Sipadan dan Ligitan, sementara lndonesia telah menelantarkan kawasan itu.

“Karena itu, kalau Indonesia tidak berhati-hati, pulau-pulau terluar Indonesia pada suatu saat bisa jatuh ke tangan Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam, Vietnam, dan Tiongkok,” pungkasnya.

Lihat juga...