Sapi Madura, Antara Identitas Sosial dan Nilai Ekonomi
Identitas sosial
Selain memiliki potensi ekonomi yang cukup bagus apabila bisa dikembangkan dengan secara maksimal dengan pola pengelolaan modern, sapi Madura ini juga menjadi identitas sosial bagi sebagian masyarakat di Pulau Garam tersebut.
Terutama pada sapi karapan dan sapi sonok. Sebab, harga kedua jenis sapi ini terbilang sangat mahal, yakni mencapai ratusan juta rupiah.
“Khusus untuk kedua jenis sapi ini, tidak semua warga bisa memilikinya, dan hanya orang-orang tertentu yang memiliki cukup uang yang bisa memiliki sapi karapan dan sapi sonok,” kata Kepala Dinas Peternakan Bambang Prayogi.
Mahalnya sapi karapan dan sapi sonok ini, karena selain keduanya merupakan bibit sapi unggul, juga karena kedua jenis sapi tersebut sudah menjadi identitas budaya warga di Pulau Madura.
Menurut akademisi dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura Abd Hannan, kelompok masyarakat yang memegang teguh pada identitas budaya pada komunitas masyarakat setempat, maka pada akhirnya akan memperkuat identitas sosial mereka.
Dengan demikian, sambung dia, para pemilik sapi yang dipersepsi oleh masyarakat adalah sama dengan merawat tradisi sebagai identitas budaya masyarakat Madura, maka secara otomatis identitas sosial mereka juga akan terangkat.
Pandangan dosen Ilmu Sosiologi ini tentu sangat beralasan, mengingat dua jenis sapi yang menjadi ikon budaya Madura tersebut, yakni sapi karapan dan sapi sonok, berbeda dengan sapi peliharaan pada umumnya.
Untuk sepasang sapi sonok, harganya antara Rp150 juta hingga Rp200 juta, sedangkan untuk sapi karapan, antara Rp300 juta hingga Rp500 juta dalam satu pasangan sapi. [Ant]