Sapi Madura, Antara Identitas Sosial dan Nilai Ekonomi

Seni Budaya Sapi

Meski memelihara sapi belum termasuk penghasilan utama bagi masyarakat Madura, tetapi kegemaran masyarakat memelihara sapi di pulau ini mampu menumbuhkan kreasi daya cipta, karsa dan rasa.

Dan, berawal dari kegemaran ini, seni budaya tradisional dan unik dari para penggemar sapi di Madura timbul. Sapi, tidak hanya sebatas hewan piaraan, akan tetapi juga menjadi bagian tak terpisah dari seni budaya Madura.

Seni budaya tradisional yang melibatkan hewan piaraan sapi ini, tumbuh dengan pesat di Madura. Sapi bukan hanya sebatas alat untuk membajak sawah, akan tetapi juga menjadi media dalam mengekpresikan karya seni tersendiri bagi masyarakat Madura.

Karapan sapi, yakni adu kecepatan lari pasangan sapi merupakan salah satu jenis seni budaya Madura yang memanfaatkan sapi sebagai instrumen dan media dalam mengekpresiden hasil karsa, rasa dan cipta mereka.

Bahkan budaya asli asal Madura tersebut, kini sudah dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia hingga manca negara. Perlombaan yang memperagakan kecepatan lari pasangan sapi Madura tersebut sejak puluhan tahun lalu sudah menjadi agenda wisata budaya nasional dan menjadi kegiatan rutin tahunan setelah masa panen di musim kemarau berlangsung.

Konon, karapan sapi ini pertama kali diperkenalkan oleh Pengeran Katandur, yakni salah seorang bangsawan Madura dari Karaton Sumenep.

Sang Pangeran awalnya membuat kegiatan adu cepat lari sapi ini, untuk mengisi waktu senggang menjelang pergantian musim, dari kemarau ke penghujan, sehingga dalam perkembangannya, festival karapan sapi oleh masyarakat Madura biasa digelar saat musim kemarau.

Jenis seni budaya lainnya yang menggunakan sapi adalah “Sapi Sonok” atau kontes kecantikan sapi.

Berbeda dengan karapan sapi yang dinilai karena kecepatan larinya dalam melintasi lapangan sepanjang 250 meter, dalam kontes “sapi sonok” yang dinilai adalah kecantikan sapi dan keserasian dengan hiasan yang digunakan pada pasangan sapi.

Dalam kontes “sapi sonok” musik saronen, yakni musik tradisional Madura merupakan pengiring gerak langkah pasangan sapi dari garis start menuju finish. Keserasian langkah kaki sapi dengan iringan musik saronen juga menjadi salah satu faktor penilian, selain keserasian gerak langkah kaki pasangan sapi.

Jika dalam festival karapan sapi pasangan sapi yang dilombakan itu jantan, tapi dalam sapi kontes kecantikan sapi atau kontes “sapi sonok” jenis pasangan sapi yang dilombakan adalah sapi betina.

“Dan ‘sapi sonok’ ini merupakan seni budaya dengan media sapi yang asli berasal dari Pamekasan,” kata Kasi Budaya dan Pariwisata pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pamekasan Halifaturrahman.

Selain karapan sapi dan sapi sonok, jenis seni budaya tradisional Madura lainnya dari hewan piaraan sapi ini sapi taccek, atau sapi pajangan.

Sapi-sapi piaraan warga dipajang berjejer dalam satu tempat, lalu dinilai keindahan bentuk sapi, seperti kelicinan bulu sapi, perawatan kuku sapi dan tanduk sapi, serta keseimbangan proporsional antara berat dengan tinggi badan ternak tersebut.

“Khusus untuk sapi taccek ini, banyak digelar oleh para peternak sapi di wilayah utara Pamekasan. Setiap satu bulan sekali, mereka memamerkan sapi-sapi mereka di satu tempat, sekaligus sebagai wadah bertukar informasi tentang sistem perawatan agar sapinya semakin bagus,” kata Kepala Dinas Peternakan Pamekasan Bambang Prayogi.

Potensi Ekonomi

Menurut Bupati Pamekasan…

Lihat juga...