Keberadaan Kampus Dongkrak Ekonomi Daerah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURBALINGGA – Keberadaan Perguruan Tinggi (PT) atau kampus dipastikan mampu mendongkrak perekonomian daerah. Sebab,  banyak mahasiswa pendatang, tempat kos dan warung makan bermunculan, secara otomatis ekonomi masyarakat sekitar juga meningkat.

Hal tersebut disampaikan Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi, yang sangat menyambut baik atas kehadiran universitas baru di Kabupaten Purbalingga.

Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi, menyatakan optimis keberadaan UIN akan mampu mendongkrak perekonomian Purbalingga, Selasa (29/10/2019) – Foto: Hermiana E. Effendi

Dimana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto tengah dalam pengembangan untuk bertransformasi statusnya menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) di Kabupaten Purbalingga.

“Dimana pun, kehadiran kampus pasti akan berdampak positif bagi perekonomian daerah, sudah banyak contohnya, mulai dari Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Banyumas dan lain-lain. Semoga ekonomi Purbalingga juga terdongkrak dengan bertransformasinya IAIN menjadi UIN di Purbalingga,” kata Bupati usai mengisi acara seminar di UIN, Selasa (29/10/2019).

Lebih lanjut Bupati yang biasa disapa Tiwi ini menjelaskan, saat ini pertumbuhan ekonomi Kabupaten Purbalingga baru 6,2 persen. Dengan kehadiran UIN di Purbalingga, ditambah dengan segera beroperasinya Bandara Soedirman, maka pihaknya berani menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 6 persen pada tahun depan.

Menurut Tiwi, kehadiran kampus memberikan dampak multiplier effect, geliat ekonomi misalnya sektor percetakan, kost, warung makan, jasa dan lain sebagainya. Terlebih dengan kehadiran Bandara JB Soedirman, hal ini merupakan pilihan yang tepat bagi IAIN Purwokerto untuk mendirikan pusat kegiatan akademisnya di Purbalingga, karena akses dari berbagai penjuru menjadi lebih mudah.

“Disamping multiplier effect tersebut, kehadiran perguruan tinggi di Purbalingga juga akan memberikan dampak terhadap peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). Ini sangat penting, sebab sektor pendidikan merupakan salah satu aspek penentu dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM),” terang Tiwi.

Sebagaimana diketahui, IPM Kabupaten Purbalingga saat ini menempati urutan ke 27 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, atau nomor delapan terbawah di Jawa Tengah. Hal ini berdasarkan rata-rata lama sekolah di Purbalingga rendah, yaitu hanya 7 tahun. Dengan kata lain, rata-rata warga Purbalingga jenjang pendidikannya hanya sampai pada kelas 1 SMP.

“Dengan adanya perguruan tinggi akan lebih memotivasi anak sekolah untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Ini tentu dampak yang sangat positif, sebab jumlah lulusan SMA/SMK/MA di Kabupaten Purbalingga setiap tahunnya mencapai 11.900 siswa,” kata Tiwi.

Sementara Itu Wakil Rektor IAIN Purwokerto, Dr H Ridwan MAg, menyampaikan, melalui paket regulasi Peraturan Pemerintah (PP) No 46 tahun 2019 tentang Pendidikan Tinggi Keagamaan terdapat mandat baru.

Salah satunya bahwa Pendidikan Tinggi Keagamaan tidak hanya mengurusi ilmu agama. Akan tetapi adanya perluasan untuk ilmu eksakta, sains dan teknologi atau laboratorium kajian integrasi antara ilmu agama dengan sains. Dan alih status IAIN menjadi universitas ini bagian dari pelaksanaan mandat tersebut.

“Setelah bertransformasi nanti, rencananya perguruan tinggi ini akan berubah namanya menjadi UIN Prof KH Saifuddin Zuhri. Nama Prof KH Saifuddin Zuhri merupakan Menteri Agama RI ke-10,” ungkapnya.

Lihat juga...