Daya Beli Menurun Pengaruhi Penjualan Batik di Pasar Tradisional Lamsel
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
LAMPUNG — Menurunnya daya beli masyarakat di Lampung Selatan (Lamsel) akibat berbagai hal, di antaranya gagal panen akibat kemarau berdampak terhadap penjualan pedagang batik di pasar tradisional Pasuruan, Kecamatan Penengahan.

Bambang, pedagang pakaian motif batik mengaku penjualan menurun dibandingkan awal tahun. Meski pemerintah mencanangkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional, namun hal tersebut tidak mempengaruhi tingkat penjualan.
“Tahun sebelumnya, sepekan jelang hari batik bisa menjual bahan kain dan baju hingga 100 potong. Penjualan yang meningkat karena tahun sebelumnya petani masih mendapatkan hasil panen yang bagus,” ungkap Bambang saat ditemui Cendana News, Rabu (2/10/2019).
Bambang menambahkan pada tahun ini maksimal ia hanya mampu menjual baju dan pakaian batik 50 potong. Permintaan masih belum menyaingi pembelian kaos dan kemeja serta pakaian wanita.
Penurunan daya beli masyarakat akibat gagal panen juga diakui oleh Emiliana penjual pakaian di pasar yang sama.
“Tahun sebelumnya banyak pembeli batik untuk acara acara khusus dan diwajibkan memakai batik, tahun ini sepi pembeli,” tutur Emiliana.
Sejumlah konsumen yang menurutnya merupakan petani penanam padi dan jagung yang biasanya membeli maksimal tiga potong pakaian, kini hanya mampu membeli satu potong.
Slamet,pedagang kain dan penjahit di Desa Pasuruan mengungkapkan permintaan batik cenderung menurun tahun ini. Faktor daya beli masyarakat menjadi pemicu menurunnya permintaan akan pakaian. Sejumlah kain motif batik menurut Slamet banyak diminati oleh Aparatur Sipil Negara (ASN), guru dan siswa sekolah.
“Pelanggan kerap sudah membawa bahan pakaian untuk dijahitkan kepada saya, tapi tahun ini tidak sebanyak tahun sebelumnya,” tutur Slamet.
Pada kondisi normal, Slamet mencatat bisa menjual hingga 30 meter kain motif batik per bulan. Kain seharga Rp60.000 per meter kerap dibuat menjadi baju dengan upah Rp50.000. Namun daya beli masyarakat yang menurun salah satunya imbas gagal panen membuat ia hanya menjual sekitar 10 meter bahan batik per bulan. Selain motif batik bersama sang anak ia juga melayani pembuatan busana muslim pada toko sekaligus usaha jahit pakaian miliknya.