BUMDes Ribang Sukses Usaha Ayam Petelur

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Pemerintah pusat melalui Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) RI, selalu mendorong desa untuk memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sendiri. Hadirnya BUMDes diharapkan dapat menghidupkan perekonomian desa, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. BUMDes juga dapat menekan angka pengangguran, karena bisa membuka lapangan kerja.

“Munculnya BUMDes ini sesungguhnya berawal dari usulan kami masyarakat desa, karena merasa program ini sangat bagus, tetapi mengalami keterlambatan karena kurangnya suber daya manusia di desa,” kata Yosep Hendarsa, Ketua BUMDEs di Desa Ribang, kecamatan Koting, kabupaten Sikka, NTT, Selasa (1/10/2019).

Dikatakan Yosep, pihaknya mulai mengumpulkan anak-anak muda di desa dan mengajak diskusi. Akhirnya disepakati untuk membuka usaha peternakan ayam petelur dan babi.

Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) desa Ribang, kecamatan Koting, kabupaten Sikka, NTT, Yosep Hendarsa. -Foto: Ebed de Rosary

Mulai 15 April 2019, pihaknya mulai dengan beternak ayam petelur. Modal awal BUMDes merupakan penyeratan modal  dari desa pada 2018, sebesar Rp100 juta, sehingga mulai mempersiapkan kandang dan mendatangkan ayam petelur dari luar daerah.

“Awal Agustus lalu, ayam sudah mulai bertelur. Saat ini kita sudah bisa memproduksi telur 430 butir sehari, dari 497 ekor ayam petelur. Kami juga akan mengembangkan ayam lokal sebagai ayam petelur,” tuturnya.

Yosep yakin, dengan manajemen yang baik, maka akan menghasilkan prodak telur yang baik,  telur merupakan salah satu bahan makanan yang sangat dibutukan pasar.

Untuk pengembangannya, kata dia, setiap tahun akan terus ditambah kesediaan ayam petelur sebanyak 500 ekor ayam. Kebutuhan telur ayam ini semakin meningkat sebab bukan hanya untuk dikonsumsi, tapi juga dibutukan oleh industri roti. Pihaknya akan melakukan kerja sama dengan home industri dengan cara telur langsung mengantarnya ke konsumen.

“Sekarang ini pasar kami masih di dalam kabupaten Sikka, dan kami ke depannya akan mengembangkan penjualan hingga ke seluruh wilayah di pulau Flores,” ungkapnya optimis.

Yosep yakin, hal ini bisa terwujud, sebab produksi telur ayam  masih sangat sedikit dibandingkan dengan konsumsi secara umum. Penjual masih mendatangkan telur ayam dari Surabaya.

Dalam sebulan, paparnya, hasil penjualan yang diperoleh bisa mencapai Rp8,39 juta. Ini merupakan penghasilan bersih setelah dipotong dengan biaya produksi dan lainnya.

“Rencana BUMDes ini ke depannya, kita akan mengelola pakan sendiri dan komposisi pakan juga sudah ada. Namun, yang menjadi permasalahan adalah jagung, produksi jagung lokal belum bisa mencukupi pakam dalam  setahun,” jelasnya.

Saat ini, sebut Yosep, pihaknya masih menggunakan pakan pabrik. Jika dihitung, selisih antara pakan pabrik dan pakan lokal satu kilogramnya sekitar Rp400.

Sementara itu, Kepala Desa Ribang, Paulinus Badar, mengatakan, dengan beternak ayam petelur hal ini ikut menyukseskan program pemerintah dalam bidang kesehatan, yakni mencegah stunting.

Penurunan stunting, kata Paulinus, menjadi program nasional. Stunting salah satu penyebabnya adalah kurang asupan gisi dan protein oleh  ibu hamil dan anak usia dini.

“Maknya dalam program desa, kami mewajibkan masyakarakat untuk sehari mengkonsumsi sebutir telur ayam. Hal ini supaya bisa meningkatkan protein dan mencegah stunting,” ujarnya.

Lihat juga...