Angin Timur Pengaruhi Tangkapan Ikan Laut di Lampung Selatan

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Keberadaan musim angin timur memunculkan gelombang tinggi yang mencapai tiga hingga empat meter di perairan Lampung Selatan. Hal itu berpengaruh terhadap hasil tangkapan nelayan.

Saniun, nelayan asal Dusun Muara Bakau, Desa Bakauheni, Lampung Selatan menyebut, angin timur dan gelombang tinggi mendorongnya memilih untuk beristirahat melaut. Nelayan pancing rawe dasar dan jaring dengan perahu ketinting tersebut memilih memperbaiki perahu dan alat tangkap, sembari menunggu cuaca membaik. Selain faktor keselamatan, libur melaut dipilih karena semua jenis ikan pelagis dan ikan dasar sulit ditangkap.

Sesuai prakiraan cuaca, perairan Selat Sunda bagian barat dan Selatan serta selatan Banten, saat ini memiliki ketinggian gelombang empat hingga enam meter. Bagi nelayan perahu kecil kondisi cuaca tersebut cukup berbahaya.

Dan untuk tetap menjalankan usahanya, Saniun memilih memasang bubu kawat di tepi pantai tepatnya di sekitar tanaman mangrove. Bubu kawat masih bisa menghasilkan tangkapan seperti udang, kepiting dan ikan sembilang.

Pada kondisi normal, ia bisa mendapat hasil tangkapan berupa simba, lapeh dan kerapu serta ikan kecil jenis tanjan, japuh dan tengkurungan. “Jika kondisi cuaca bersahabat saya bisa mencari ikan dengan memasang jaring permukaan sepanjang ratusan meter dan juga memancing, tapi saat ini cuaca perairan didominasi angin kencang dan gelombang tinggi,” ungkap Saniun saat ditemui Cendana News di Muara Bakau, Kamis (24/10/2019).

Seorang pelele, Maman, melayan pembeli, Kamis (24/10/2019). Angin timur di perairan Selat Sunda menjadikan pasokan ikan untuk pelele minim – Foto Henk Widi

Nelayan lainnya, Kasuni, menyebut, beristirahat melaut dan membawa perahu ke daratan. Sebab, jika ditambat di tepi pantai perahu rawan terhembat gelombang dan membentur batu karang. “Usai tsunami batu penghalang gelombang hancur sehingga saat angin timur lokasi perlindungan perahu rusak, nelayan memilih membawa perahu ke daratan,” tegasnya.

Perahu dengan ukuran enam meter milik Kasuni, hanya bisa dioperasikan saat kondisi perairan tenang. Sebab saat gelombang tinggi perahu berpotensi terhempas. Hal itu bisa merusak alat tangkap. Karena tidak melaut, banyak nelayan yang memilih menarik jaring paying, yaitu teknik mencari ikan dengan jarring dari daratan. Ikan yang biasa didapat diantaranya, teri, tanjan, simba.

Nelayan libur melaut, telah berimbas pada pasokan ikan di pedagang ikan keliling. Pedagang ikan keliling atau dikenal dengan pelele, biasa mendapat ikan dari nelayan di pesisir barat Lamsel. “Ikan yang saya jual terbatas, hanya jenis ikan japuh, selar, tengkurungan dan teri. Karena jenis ikan lain sedang tidak ada stok alias kosong,” tutur seorang pelele Maman.

Lihat juga...