Andalkan Irigasi Sungai, Meskipun Kemarau Petani Penengahan Tetap Produktif

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sungai Way Pisang dan sungai Asahan bersumber dari Gunung Rajabasa menguntungkan petani Lampung Selatan (Lamsel) saat kemarau atau gadu.

Isdiyanto, petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut ia bisa menanam padi selama tiga kali dalam setahun. Pasalnya saat masa tanam pertama (MT1), masa tanam kedua (MT2) dan masa tanam ketiga (MT3) pasokan air lancar.

Pasokan air lancar dari sungai Way Asahan disebutnya disalurkan melalui Daerah Irigasi (DI) pada sejumlah pintu air. Saluran irigasi tersebut menurutnya dibangun sejak tahun 1989 dan masih berfungsi hingga kini.

Melalui sejumlah pintu air ratusan hektare lahan sawah termasuk setengah hektare lahan sawah miliknya bisa ditanami saat musim gadu. Pembagian air dilakukan dengan sistem buka tutup pintu air atau dikenal dengan tetek terbuat dari besi.

Keberadaan daerah irigasi Way Asahan menurutnya membuat lahan pertanian di wilayah tersebut produktif. Pada musim tanam penghujan atau rendengan, Isdiyanto menyebut bisa menghasilkan panen sekitar 5 ton gabah kering panen (GKP).

Saat musim tanam gadu ia memprediksi hasil panen bisa mencapai 4,5 ton. Hama tikus dan burung menurutnya menjadi penyebab penurunan produksi padi meski petani masih bisa menanam saat musim gadu.

“Produktivitas tanaman padi masih berjalan dengan normal meski ada hama tikus dan burung, namun populasi yang tidak terlalu banyak membuat petani masih bisa menikmati hasil panen pada masa tanam ketiga ini,” ungkap Isdiyanto saat ditemui Cendana News tengah menghalau burung di sawahnya, Sabtu (12/10/2019).

Isdiyanto menyebut revitalisasi sejumlah saluran irigasi atau dikenal siring membuat lahan pertanian bisa dilakukan. Sebelumnya saluran irigasi tersebut mengalami kebocoran pada sejumlah titik.

Setelah dilakukan proses perbaikan oleh Dinas Pekerjaan Umum, saluran irigasi bisa dimanfaatkan bagi ratusan hektare lahan sawah. Petani menurutnya tidak pernah khawatir kekurangan air selama debit Way Asahan stabil.

Debit air sungai Way Asahan diakuinya tetap stabil karena mengalirkan air dari sungai Way Muloh. Meski sudah dibendung pada Lubuk Ludai bendungan di Way Pisang masih bisa dialirkan pada siring ke ratusan hektare lahan sawah di Desa Ruang Tengah, Desa Pasuruan dan Desa Kelaten.

Isdiyanto menyebut percepatan masa tanam bisa dilakukan berkat adanya alat dan mesin pertanian (Alsintan) dan irigasi yang lancar.

“Kebutuhan air tidak pernah terkendala karena ada sungai Way Asahan bisa dimanfaatkan sepanjang musim,” tutur Isdiyanto.

Stabilnya pasokan air untuk lahan pertanian di Desa Pasuruan bahkan masih bisa dimanfaatkan untuk lahan petanian lain. Sebab air yang terbuang ke sungai akan mengalir kembali ke sungai Way Asahan dan dipakai petani di Desa Kuripan melalui Lubuk Sepan.

Terjaganya sumber air Gunung Rajabasa di kawasan tersebut membuat petani masih bisa menggarap lahan sawah saat kemarau.

Selain sungai Way Asahan, keberadaan sungai Way Pisang menjadi berkah bagi petani saat kemarau. Sopian Yakub, petani di Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan menyebut sungai Way Pisang belum pernah kering meski kemarau.

Ia menyebut memanfaatkan sungai Way Pisang untuk irigasi tanaman cabai keriting sebanyak 21.500 batang dan di lahan lain sebanyak 30.000 batang.

Sopian Yakub, petani cabai keriting di Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan Lampung Selatan melakukan proses membendung air irigasi untuk lahan pertanian cabai keriting miliknya memanfaatkan sungai Way Pisang, Sabtu (12/10/2019) – Foto: Henk Widi

Pemanfaatan sungai Way Pisang disebutnya bisa dimaksimalkan saat kemarau bagi petani.

Menggunakan mesin sedot ia bisa mengairi lahan pertanian dengan sistem tetes (drip system).

Pola tersebut memanfaatkan air yang ditampung sehingga lahan tanaman cabai merah selalu terairi dengan selang khusus. Pasokan air sungai Way Pisang disebutnya menjadi harapan petani selama kemarau karena masih bisa bercocok tanam.

“Musim hanya menjadi siklus alam namun pola pertanian bisa diatur oleh petani memakai alsintan dan teknologi,” ungkap Sopian Yakub.

Sopian Yakub yang juga merupakan kepala desa Sukabaru menyebut lahan di desa tersebut seluas 963 hektare. Sebagian lahan seluas 273 hektare dimanfaatkan untuk sawah.

Sementara sekitar 400 hektare merupakan lahan pertanian kering. Lahan kering disebutnya menjadi lokasi penanaman jagung dan hortikultura. Pemanfaatan sungai Way Pisang saat kemarau disebutnya bisa mempertahankan produktivitas hasil pertanian.

Lihat juga...