Air PDAM tak Mengalir, Warga Manu Bura Beli Air Bersih
Editor: Koko Triarko
MAUMERE – Musim kemarau yang berkepanjangan, membuat hampir sebagian warga di kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami krisi air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih keluarga, warga terpaksa membeli air dari mobil tanki di Kota Maumere, yang diantar langsung ke rumah warga.
“Sejak musim kemarau sekitar bulan Mei sampai saat ini, saya sudah membeli 11 tanki air dengan harga Rp160 ribu ukuran 5 ribu liter,” kata Angela Femilia, warga RT13, RW 06, dusun Habi Piret, desa Manu Bura, kecamatan Nelle, kabupaten Sikka, Selasa (8/10/2019).
Dikatakan Helmy, sapaannya, jaringan pipa air dan sambungan rumah milik Perusahaan daerah Air Minum (PDAM) di dusun mereka, dipasang sejak 2017.
Setelah sambungan rumah dipasang, kata dia, air sempat mengalir selama dua jam, namun hanya seminggu sekali. Warga pun kekurangan air bersih untuk konsumsi sehari-hari.

“Airnya tidak cukup, sehingga hanya dipergunakan selama dua hari saja. Kami pun terpaksa membeli air dari mobil tanki ukuran 5.000 liter untuk dikonsumsi selama 2 minggu,” ungkapnya.
Dengan kondisi tersebut, tambah Helmy, biasanya dirinya membayar iuran sebesar Rp45 ribu sebulan. Dirinya mengaku sudah 2 bulan terlambat bayar, karena air tidak pernah mengalir lagi.
Sumarni, warga lainnya, menambahkan, air tidak mengalir setiap hari sejak adanya pengerjaan jalan semen di dusun mereka, pipa air mengalami kerusakan dan petugas PDAM tidak memperbaikinya.
Warga sudah menyampaikan ke petugas, namun belum juga ditindaklanjuti. Warga pun pasrah dan membeli air dari mobil tanki untuk ditampung di bak penampung dari semen, yang dimiiliki hampir setiap rumah.
“Warga berharap, pemerintah kabupaten Sikka melalui PDAM Sikka bisa mengatasi hal ini supaya air kembali mengalir. Pernah ada petugas yang datang tagih iuran, tapi saya sampaikan, bahwa air tidak perah keluar sama sekali,” ujarnya.
Petuga PDAM Sikka tersebut, kata Sumarni, memaklumi kondisi tersebut sehingga tidak menyegel kran air miliknya.
Saat air tidak mengalir, warga tetap membayar iuran beban sebesar Rp13 ribu sebulan.
Warga pun sering ribut dengan petugas PDAM Sikka lalu setelah warga memarahi, air pun kembali mengalir tetapi hanya sesaat saja. Kondisinya pun sama seperti sebelumnya.
“Petugas bilang, debit air tidak mencukupi, tapi sebelum musim kemarau pun air tetap saja tidak mengalir setiap hari. Ini yang membuat kami masyarakat kecil merasa bingung,” tuturnya.