Stigma Negatif, Penghalang Penanganan HIV/Aids di Masyarakat

Editor: Mahadeva

JAKARTA – Stigma negatif dari masyarakat, menghalangi proses penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Para penderita, cenderung tidak mau datang ke pusat pelayanan kesehatan karena adanya sikap negatif dari orang yang mengetahui kondisinya.

Masyarakat umum, tidak mau melakukan tes HIV karena takut menerima perlakuan diskriminatif. Tim Advokasi PPH Unika Atmajaya, Iman Abdurrakhman, menyebut, ada lima faktor yang berpotensi menghalangi proses penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia.

“Homofobia, stigma dan diskriminasi merupakan faktor pertama yang menghalangi. Para LSL dan transpuan, menjadi tidak mau melakukan pengecekan HIV. Bagi yang sudah positif, mereka enggan untuk mendatangi fasilitas kesehatan. Akhirnya, orang dengan HIV tidak menjalani terapi ART, yang mendorong mereka masuk ke tahap AIDS,” kata Iman, dalam salah satu kegiatan terkait HIV/AIDS di Jakarta, Senin (23/9/2019).

Faktor kedua adalah persekusi. Aktivitas tersebut menimbulkan rasa takut pada para waria. Mendorong mereka tidak lagi berkumpul di satu lokasi, dan beralih ke sosial media. “Banyak pemberitaan penangkapan ataupun tindakan negatif pada kelompok waria menyebabkan mereka akhirnya gak nongkrong lagi. Mereka sekarang di medsos. Yang notebene lebih susah untuk kita pantau dan dibina, dibandingkan jika mereka berada di lokasi tertentu,” urai Iman.

Sikap masyarakat yang menghakimi kelompok populasi spesifik atau populasi inti, sebagai kelompok abnormal atau orang dengan gangguan kejiwaan, menjadi faktor ketiga yang membuat program penanggulangan HIV/AIDS tidak berjalan optimal.  “Norma agama, merupakan faktor keempat, yang juga turut menjadi faktor tidak berhasilnya program penanggulangan ini. Orang akan langsung menghakimi bahwa orang seperti ini adalah pendosa tanpa ada solusinya,” ucap Iman.

Yang kelima adalah informasi yang menyesatkan atau tidak benar tentang HIV. “Saya tegaskan, ODHA itu bukan berarti tidak bisa melakukan apa-apa. Dengan mengikuti antiretroviral terapi (ART), mereka sama saja dengan orang sehat. Bisa bekerja dan melakukan aktivitas seperti biasa,” urai Iman.

Dan informasi tidak benar tentang cara penularan HIV juga membuat, masyarakat takut untuk berinteraksi dengan ODHA. “HIV itu tidak bisa menular seperti virus flu. Ada syarat untuk terjadinya penularan,” jelas Iman.

Virus HIV, bisa menular jika ESSE terpenuhi. “Harus ada Exit, yaitu akses keluar virus. Survive, artinya virus HIV itu bertahan. Sufficience, artinya jumlah virus harus memenuhi kuota. Jadi kalau sudah minum ARV dan virusnya kurang dari kuota, tidak akan bisa menular. Dan terakhir adalah Enter, yaitu jalan masuk virus ke tubuh yang baru,” papar Iman.

Banyak kasus dimana petugas pelayanan kesehatan, yang cenderung menghindari karena tidak memahami hal ini. Hal yang Sama juga terjadi pada masyarakat, yang takut berdekatan dengan ODHA. “Kalau masyarakat sudah membangun benteng, maka mereka akan bersembunyi. Akhirnya, kita juga tidak bisa membina dan mendorong mereka untuk mengikuti terapi,” tandas Iman.

Saat kondisi ini terjadi, maka pemerintah tidak akan bisa mengontrol populasi. Kecenderungan penularan akan semakin besar.  Karena orang yang tidak tahu, akan berpotensi menularkan pada yang sehat. Dan yang positif HIV, akan terdorong ke tahap AIDS. “Sehingga susah untuk tertolong lagi. Akhirnya, akan semakin tinggi penyebaran HIV ini,” pungkas Iman.

Lihat juga...