Aparat Gencar Cegah Karhutla di Wilayah Pesisir Lamsel
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Jajaran kepolisian melalui Kepolisian Perairan (Polair) Polres Lampung Selatan (Lamsel) gencar sosialisasi pencegahan kebakaran lahan.
Kasatpolair Polres Lamsel, AKP Toni Apriadi, menyebut, jajarannya mengajak serta masyarakat, pemerintah desa di dekat pesisir, pulau mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Karhutla disebutnya bisa mengakibatkan polusi asap, membahayakan satwa dan manusia saat merembet ke perkampungan.

Langkah yang dilakukan oleh Satpolair disebutnya dengan melakukan patroli dan sosialisasi bersama.
Patroli dan sosialisasi bersama melibatkan unsur pemerintah desa Sumur, Kecamatan Ketapang, Desa Bakauheni kecakatan Bakauheni.
Selain itu UPT Puskesmas Rawat Inap Ketapang juga dilibatkan dalam pencegahan Karhutla. Sebab dampak karhutla dengan asap yang pekat bisa menimbulkan sejumlah penyakit pernapasan.
Pada sosialisasi yang dilakukan Satpolair, unsur Pemdes Sumur, UPT Puskesmas Ketapang, AKP Toni Apriadi mendatangi sejumlah lahan pertanian. Lokasi lahan pertanian yang ada di wilayah pesisir timur berhadapan dengan pantai dengan vegetasi hutan mangrove.
Selain sebagai benteng alam, sabuk hijau, sejumlah vegetasi mangrove merupakan habitat dan lingkungan hidup bagi sejumlah satwa.
“Kami imbau agar masyarakat di sekitar pesisir jangan membakar limbah pertanian penanaman jagung, karena berimbas asap dan jika merembet ke hutan mangrove bisa menyebabkan kebakaran karena semak belukar yang kering mudah terbakar,” ungkap AKP Toni Apriadi, saat patroli dan sosialisasi Karhutla di pesisir Ketapang, Rabu (25/9/2019).
Melibatkan unsur Puskesmas, imbauan juga diberikan berkaitan dengan bahaya asap. Pihak Puskesmas yang langsung dipimpin oleh kepala UPT Puskesmas Rawat Inap Ketapang, Samsu Rizal, mengimbau selama kemarau warga mengurangi kegiatan membakar lahan. Selain itu aktivitas di luar ruangan bagi masyarakat harus diantisipasi dengan mengenakan masker mencegah penyakit pernapasan.
Sejauh ini imbas dari kemarau diakui Samsu Rizal masih belum banyak masyarakat terkena penyakit pernapasan. Namun kemarau yang masih melanda wilayah tersebut dominan mengakibatkan anak-anak mengalami batuk, pilek.
Kepada masyarakat ia mengimbau agar warga bisa memanfaatkan fasilitas Posyandu dan bidan desa untuk pemeriksaan kesehatan selama kemarau.
Hendra, Kepala Dusun Gusung Berak, Desa Sumur, Pulau Rimau Balak menyebut, sosialisasi Satpolair, Puskesmas, Pemdes Sumur telah disampaikan kepada masyarakat.

Ia menyebut, kegiatan membakar lahan di pulau Rmau Balak dan kawasan pesisir tidak dilakukan warga karena berpotensi merambet ke hutan mangrove.
Keberadaan sejumlah tanaman bakau atau mangrove menjadi penghalang alami saat gelombang dan angin kencang.
“Masyarakat pesisir memiliki kesadaran menjaga lingkungan dengan tidak membakar lahan, selain itu saat kemarau banyak warga tidak bisa bercocok tanam karena lahan kekurangan air,” ungkap Hendra.
Hendra menyebut, selain sosialisasi pencegahan Karhutla, ia berharap pihak terkait bisa membantu kebutuhan air beesih. Sebab selama kemarau melanda warga pulau Rimau Balak kesulitan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Selain itu ia memastikan fasilitas desalinasi (alat pengubah air laut menjadi air tawar) di pulau tersebut rusak. Kebutuhan air bersih terpaksa dipenuhi warga dengan membeli air galon dari pulau Sumatera.
Pencegahan Karhutla juga menjadi perhatian Pemdes Bakauheni. Sahroni, Kepala Desa Bakauheni mengungkapkan, kawasan desa yang dipimpinnya sebagian merupakan wilayah pesisir pantai.
Sebagian lahan pertambakan, pertanian di wilayah tersebut rentan mengalami kebakaran. Sebagai upaya meminimalisir, Sahroni menyebut telah mendatangi sejumlah pengelola lahan pertanian, tambak dan kawasan wisata agar tidak melakukan pembakaran lahan.
“Sudah kami sampaikan selama kemarau dilarang membakar semak-semak karena bisa menyebabkan kebakaran meluas,” tegasnya.
Salah satu petani di Dusun Pinang Gading, Bakauheni bernama Santi menyebut, membakar limbah batang jagung untuk pembersihan lahan. Pembakaran limbah diakuinya menjadi solusi paling cepat untuk membersihkan lahan persiapan masa tanam musim penghujan.
Meski melakukan pembakaran di dekat pesisir yang dekat tanaman mangrove, ia menyediakan air berisi ember untuk memadamkan api.