Pelantikan DPRD Kota Bekasi Diwarnai Aksi Demo Mahasiswa
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
BEKASI – Pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan 50 anggota DPRD Kota Bekasi, Jawa Barat periode 2019-2024 diwarnai aksi demo puluhan gabungan mahasiswa yang ada di wilayah setempat.
Aksi tersebut digelar di depan kantor DPRD Kota Bekasi, Jalan Khairil Anwar, dan dikawal ketat oleh pihak kepolisian serta satuan polisi pamong praja atau Satpol PP. Mereka ditahan di sisi kanan ujung gedung dewan, tidak diperkenankan aparat kepolisian ke pintu gerbang kantor DPRD Kota Bekasi.
Antara aparat kepolisian yang telah menjaga aksi mahasiswa dari awal sempat terjadi dorong mendorong, karena puluhan gabungan mahasiswa tersebut memaksa masuk ke lokasi gedung DPRD Kota Bekasi yang tengah melangsungkan proses pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan.
Aksi itu berjalan hingga proses pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan anggota dewan baru selesai sekira pukul. 13.27 WIB. Terlihat beberapa kali aparat gabungan kepolisian kesal dan menahan marah karena ulah mahasiswa yang terus memaksa masuk.

“Kami hanya ingin menyampaikan aspirasi kepada anggota dewan Kota Bekasi yang baru dilantik untuk optimal dalam menjalankan tugas, menjalankan amanah sebagai wakil rakyat,” ujar Mustopa Kamal, Ketua HMI Cabang Bekasi, Senin (26/8/2019).
Pasalnya tegas Mustopa, kinerja anggota DPRD Kota Bekasi periode sebelumnya dinilai belum maksimal dalam memperjuangkan aspirasi daerah seperti Perda tentang kebudayaan dan lainnya.
Dia meminta ke depan anggota dewan baru bisa lebih dominan dalam menyusun Peraturan Daerah (Perda) sehingga memberi dampak positif bagi Kota Bekasi. Karena dewan lebih memahami kebutuhan lokal warganya dibanding eksekutif.
“Kami ingin aksi ini bisa memberi dampak positif bagi anggota dewan baru. Untuk itu ia berharap bisa berdialog, tapi kami di tahan di ujung kantor dewan,” tukasnya.
Hingga selesai aksi gabungan mahasiswa dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UNISMA 45 Bekasi, Universitas Mitra Karya, Tri Bhakti, STIE Mulia Pratama dan Universitas Bhayangkara tersebut tidak ditemui satu pun anggota dewan yang baru dilantik.
Dalam aksi itu mahasiswa membawa atribut keranda sebagai pelengkap aksi untuk melakukan prosesi teaterikal. Keranda melambangkan matinya nurani anggota dewan dan mereka ingin dewan periode selanjutnya bisa optimal.